/

Cakrawala yang Terluka

/
370 dilihat
Saat pamitnya senja
Aku melayangkan pandangan
Pada indahnya semesta ini
Namun, jeritan keadilan berkecamuk di dalamnya

Adakah kau mau melihatku?
Adakah jiwamu memandangku sebagai insan hidupmu atau apa?
Adakah hatimu merasakan apa yang aku rasakan?
Ketika kau mengabaikan bahkan kau juga merusakku?

Hadirmu dalam hidupku mungkin hanyalah malapetaka bagi diri ini dan yang lain
Kau hanya menikmati kejamnya perbuatan mu tanpa kau sadari aku seperti ini, aku rusak tak bercitra karena cintamu pada sesuatu yang lain dan aku jadi akibatmu

Dengan apa aku menyadarimu?
Mungkin aku bisa semampuku
Tapi tidak bisa merubahmu
Hanya kesadaran kemanusiaan dan ilahi yang mampu 
Pun kalau muncul dari dirimu

Salatiga, 19 Juli 2023

Profil Kontributor: Mal Dangga, Mahasiswa aktif Fakultas Teologi Angkatan 2020, penulis berasal dari daerah Selatan Indonesia tepatnya di Sumba – Nusa Tenggara Timur. Penulis senang mengamati dan memetik makna setiap momen yang terjadi dalam hidup dan realitas di sekitarnya, termasuk realitas dalam puisi “Cakrawala yang Terluka” ini.

Ilustrasi/Foto: omong-omong.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Wis-Udah (Wisuda)