/

Suara Anak di Rumah Sendiri: Teriakan Cinta Anak untuk Orang Tuanya di Satya Wacana

/
678 dilihat

Beberapa hari yang lalu, “PEMILIK SAH” dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melakukan aksi demonstrasi dalam rumah mereka sendiri.

Peristiwa-peristiwa seperti ini tentu sangat memprihatinkan, karena aksi demonstrasi sangat jarang terjadi di Universitas Kristen Satya Wacana. Jika hal seperti ini sampai terjadi, tentu menandakan bahwa “PEMILIK SAH” UKSW sedang merasa sedih, cemas, bimbang, dan berduka.

Peristiwa ini menimbulkan berbagai pertanyaan yang berputar-putar di kepala:

Apa yang sebenarnya membuat UKSW di zaman modern ini mengalami kemunduran?

Apakah moto “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” (Amsal 1:7a) kini hanya menjadi kiasan yang tidak lagi bermakna?

Apakah kita sudah lupa arti dari lambang UKSW, bahwa kesetiaan diusahakan melalui ketekunan dalam membaca dan mengusahakan ilmu di bawah terang Roh Kudus?

Apakah itu kini hanya menjadi simbol yang digunakan saat mengerjakan makalah, Nota Rektor, pernyataan sikap, skripsi/artikel, atau sekadar dipamerkan kepada khalayak ramai?

14 Mei 2025, Universitas Kristen Satya Wacana – Salatiga, Jawa Tengah

Hari ini, Rabu (14/05/2025), cuaca di Salatiga pada pagi hari agak mendung—seperti Nota Rektor yang muncul di e-mail mahasiswa pada pukul 07.55 WIB.

Dalam isinya, seakan-akan “PEMILIK SAH” UKSW yang menyampaikan aspirasi justru dianggap mengganggu aktivitas perkuliahan.

Lantas, apa gunanya label mahasiswa UKSW yang dulu dikenal kritis dan kreatif, jika pada kepemimpinan saat ini justru dianggap merugikan atau melampaui kewenangannya?

Hak-hak bersuara yang disampaikan mahasiswa di rumah sendiri kini seolah tidak lagi memiliki nilai.

Sungguh lucu dan memprihatinkan—di zaman yang katanya memberikan kebebasan bagi semua orang untuk bersuara, justru kita disuruh diam.

Kutipan Ayat Alkitab sebagai Alat Pembenaran atas Tindakan

Hari ini, Rabu (14/05/2025), saya cukup bahagia karena saat bangun pagi, dalam Nota Rektor saya bisa membaca ayat Alkitab dengan saksama.

Jarang sekali kita menjumpai bacaan seperti ini dalam e-mail, apalagi dalam Nota Rektor. Ada sekitar dua bacaan firman—kalau saya tidak salah: Amsal 1:7a dan Yohanes 20:19-21.

“Sungguh memberkati,” kata saya.

Itu menandakan bahwa pihak Rektorat ternyata masih takut akan Tuhan. Semoga tidak berubah menjadi:

“Tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

Alkitab adalah dasar orang Kristen dalam berpikir dan bertindak secara kritis. Namun, kita perlu berhati-hati: apakah benar kita sudah melakukan sesuai dengan apa yang tersirat dalam ayat itu?

Jangan sampai firman Tuhan justru digunakan sebagai ajang mencari nama, dan pada kenyataannya diputarbalikkan untuk membenarkan tindakan sendiri.

Aksi Demonstrasi: Sebagai Rasa Cinta, Peduli, dan Kasih seorang Anak untuk Rumahnya  – SATYA WACANA

Menyampaikan cinta, kasih, dan kepedulian bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Ada yang mengungkapkannya lewat kata-kata, tindakan, tulisan, lagu, dan masih banyak lagi.

Seorang anak yang memiliki rumah merasa bahwa aksi demonstrasi adalah salah satu bentuk cinta mereka terhadap rumah tempat mereka hidup. Hanya orang bodoh yang tidak peduli dan akan mengatakan bahwa aksi itu merugikan.

Penutup: Harapan Anak untuk Orang Tua & Rumahnya  – SATYA WACANA

Harapan lahir dari rasa cinta terhadap sesuatu, dan begitu juga sebaliknya.

Mahasiswa adalah anak, Rektorat dan dosen adalah orang tua, dan kampus Satya Wacana adalah rumah. Itu menandakan satu keluarga utuh yang tidak bisa dipisahkan.

Namun, apa jadinya jika suara positif seorang anak tidak lagi didengarkan oleh orang tuanya sendiri, di rumahnya sendiri?

Anak hanya berharap suaranya didengar oleh orang tua, dengan harapan rumah kecil itu menjadi: tempat berdiskusi, tempat berkeluh kesah, tempat berlindung, tempat berteduh, dan tempat merasakan kasih sayang.


Penulis (kontributor): Efraim Menda
Editor: Kezia Gerungan
Ilustrasi: Jonas Elroy

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Katanya Asri Tapi Bikin Hati-Hati: Kondisi Jalan Menuju FTI

Next Story

Segel GAP dan Suarakan Tuntutan, Mahasiswa UKSW Kembali Gelar Aksi Demonstrasi

0 $0.00