/

JEJAK KOLONIAL DI SALATIGA: Dari Wilayah Mataram Hingga Pusat Kota Kolonial

/
12 dilihat

Sebelum abad ke-18, wilayah Salatiga merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam. Kondisi tersebut berubah sejak adanya perjanjian antara Mataram dan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Perjanjian ini berawal dari pemberontakan Trunojoyo dari Madura yang membuat Mataram membutuhkan bantuan pasukan tambahan. Sebagai imbalan atas bantuan militer VOC, Mataram menyerahkan wilayah Karesidenan Semarang sebagai jaminan. Pada masa itu, Salatiga masih termasuk dalam wilayah Karesidenan Semarang.

Fakta menarik, Kota Salatiga memiliki dua pusat kota, yaitu pusat kota pribumi yang kini berada di kawasan Lapangan Pancasila dan pusat kota kolonial yang berpusat di kawasan Bundaran Ramayana. Pembagian ini mencerminkan kebijakan tata kota sesuai segregasi ras pemukiman pada masa Pemerintah Belanda akibat adanya peristiwa Geger Pacinan. Jalan Diponegoro (Wilhelminastraat) dihuni oleh warga elit Eropa dan pribumi tertentu yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Jalan Jenderal Sudirman (Soloscheweg) dihuni oleh warga Tionghoa dan Timur Asing yang hingga kini masih menjadi pusat pertokoan sejak masa kolonial. Sementara itu, warga pribumi tinggal di pemukiman atau kampung-kampung di sekitarnya.

Pada tahun 1917, Salatiga resmi berstatus sebagai kota kolonial (Stadsgemeente). Sebagai kota transit dan peristirahatan (vila) bagi warga Belanda, Salatiga menjadi salah satu kota kecil pertama yang memiliki jaringan listrik dan air bersih di Jawa Tengah, bahkan lebih awal dibandingkan dengan daerah di sekitarnya. Kehadiran lampu jalan melahirkan fenomena “wisata lampu”, ketika warga dari kabupaten sekitar datang pada akhir pekan hanya untuk melihat terang benderangnya kota. Bagi sebagian masyarakat pribumi yang belum terbiasa dengan penerangan modern, cahaya lampu yang terlalu terang bahkan sempat memicu kecelakaan hingga muncul protes kepada Pemerintah Belanda agar intensitas pencahayaan dikurangi.

Di kawasan kota kolonial tersebut, masih berdiri sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Salatiga:

1. Rumah Dinas Wali Kota: Jejak Asmara Bung Karno dan Hartini

Diperkirakan dibangun pada abad ke-18, Rumah Dinas Wali Kota Salatiga memadukan arsitektur Belanda dengan pilar-pilar bergaya klasik Eropa dan arsitektur Jawa melalui atap berbentuk joglo atau limasan. Di kompleks ini juga terdapat bangunan berpilar yang konon memiliki ruang penjara bawah tanah yang hingga kini belum dibuka untuk umum.

Bangunan bersejarah ini menjadi saksi awal kisah asmara Presiden Sukarno dan Hartini. Pada September 1952, saat Bung Karno berkunjung dan bermalam di rumah dinas, ia dijamu makan malam dengan sayur lodeh buatan Hartini. Dari hidangan sederhana tersebut, tumbuh benih cinta yang kemudian berlanjut melalui surat-surat dengan nama samaran “Srihana” dan “Srihani”. Hartini kemudian menikah dengan Bung Karno dan menjadi istri keempat dan mendampingi Bung Karno hingga akhir hayatnya. Hartini turut berkontribusi dalam penyusunan resep masakan Nusantara dalam buku legendaris Mustika Rasa.

2. GPIB Salatiga

GPIB Salatiga yang dibangun pada tahun 1823 awalnya merupakan gudang mesiu. Karena dianggap berbahaya untuk berada di tengah kota, bangunan tersebut kemudian diubah menjadi gereja. Halamannya yang dikenal sebagai Kerkplein menjadi ruang berkumpul masyarakat Salatiga, terutama untuk merayakan hari-hari besar Belanda. Di bagian dalam pintu gereja, masih terdapat ukiran berbahasa Belanda yang disadur dari Alkitab Kejadian 28:17b berbunyi, “Sesungguhnya ini adalah rumah Allah, dan ini adalah pintu gerbang surga.”

Perubahan fungsi bangunan ini menjadi simbol transformasi dari tempat penyimpanan mesiu perang menjadi ruang untuk mencari kedamaian. Salah satu peristiwa penting di Kerkplein terjadi pada tahun 1936 saat pesta rakyat digelar untuk memperingati pertunangan Putri Juliana dari Belanda. Perayaan tersebut menampilkan perpaduan budaya melalui pertunjukan barongsai dan lampion dari masyarakat Tionghoa, musik Eropa, serta alunan rebana.

3. Benteng De Hersteller

De Hersteller memiliki arti “sang pemulih”. Dahulu berdiri di kawasan Telkom Salatiga saat ini—tepatnya di depan terminal angkot Tamansari—Benteng De Hersteller merupakan tempat transit dan tempat peristirahatan kuda yang kelelahan. Benteng De Hersteller memiliki keunikan karena material bangunannya diduga memanfaatkan batu-batu dari reruntuhan candi kuno di sekitarnya. Sementara itu, terdapat salah satu teori mengenai asal-usul nama Kota Salatiga yang mengaitkannya dengan penemuan tiga batu, di samping teori yang berasal dari Prasasti Plumpungan dan cerita rakyat.

Seiring berjalannya waktu, Salatiga tidak lagi menjadi kota militer. Benteng tersebut dibongkar karena lokasinya dianggap tidak lagi strategis. Akhirnya, Benteng De Hersteller dihancurkan dan dipindahkan lokasinya ke area yang masih satu kawasan di Tamansari, kemudian berganti nama menjadi Benteng Berg En Dal yang artinya “lembah dan gunung”.

4. Hotel Kalitaman

Hotel Kalitaman yang didirikan oleh seorang penguasa perkebunan bernama Pierre Hamar de La Brethonière pada tahun 1837 bertujuan untuk menyambut kedatangan Pangeran Willem Frederik Hendrik, putra dari Raja Willem II Belanda, walaupun akhirnya kunjungan tersebut batal. Hotel ini merupakan hotel dengan fasilitas terlengkap di Salatiga pada masa itu. Namun, pada praktiknya, hanya orang-orang Eropa yang boleh menginap di hotel tersebut akibat kebijakan segregasi ras. Bahkan, pada salah satu sudut tembok terdapat tulisan “Verboden voor Honden en Inlander” yang berarti “Pribumi dan anjing dilarang masuk”. Pascakemerdekaan, hotel ini berubah nama menjadi Hotel Kaloka, lalu setelahnya berganti menjadi Bank Jateng hingga saat ini.

Artikel ini ditulis berdasarkan kerja sama dengan Telusur Kota yang dapat dikenali lebih lanjut melalui instagram @telusur.kota

Penulis: Eunika Regina Suryaputri, Defika Widiya Hanin
Editor: Cecilia Maura Wilma Liu, Tabita Christine Setefanus
Foto: UNSPLASH/Visual Karsa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Di Balik Semarak HUT Salatiga; Ketika Transparansi Pengelolaan Anggaran Menjadi Sorotan

0 $0.00