/

BBM Naik, Mahasiswa Mulai Rasakan Tekanan Biaya Hidup

/
8 dilihat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat berada di angka Rp17.994,40 per sabtu (4/7). Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga juga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Dikutip dari keterangan resmi PT Pertamina Patra Niaga, harga Pertamax  naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Penyesuaian tersebut dilakukan setelah melalui evaluasi sesuai dengan formula harga yang ditetapkan pemerintah, dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian. Meski tidak seluruh biaya hidup mengalami kenaikan, pengeluaran untuk transportasi menjadi beban yang semakin terasa di tengah aktivitas perkuliahan.

Kenaikan biaya hidup tersebut mulai dirasakan oleh mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada Kamis (18/6) dengan seorang mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2024, kenaikan harga BBM memang belum menjadi beban utama, tetapi tetap berdampak pada kondisi ekonominya. Peningkatan biaya transportasi berdampak pada pengeluaran sehari-hari, sehingga ia harus menyesuaikan penggunaan bahan bakar sesuai kondisi keuangan. Ketika memiliki dana lebih, ia menggunakan Pertamax, sedangkan saat ingin menghemat pengeluaran, ia memilih Pertalite. 

Menurutnya, dampak kenaikan BBM tidak hanya dirasakan pada biaya transportasi, tetapi juga pada meningkatnya harga kebutuhan lain, seperti makanan dan kebutuhan sehari-hari. Meskipun kenaikan harga setiap kebutuhan relatif kecil, akumulasi pengeluaran tersebut tetap terasa membebani karena uang saku yang diterima tidak mengalami peningkatan. Oleh karena itu, ia berusaha menyusun skala prioritas pengeluaran dan mengurangi kebutuhan yang kurang mendesak agar kebutuhan utama selama kuliah tetap dapat terpenuhi. 

Sementara itu, seorang mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2024 menilai dampak kenaikan BBM lebih terasa bagi mahasiswa rantau yang harus mengelola kebutuhan hidup secara mandiri. Menurutnya, kenaikan harga BBM lebih terasa bagi mahasiswa rantau yang harus mengelola kebutuhan hidup secara mandiri. Sebagai pengguna kendaraan pribadi, ia mengaku biaya transportasi meningkat karena harga bahan bakar semakin mahal, sementara jumlah uang yang diterima dari orang tua tidak bertambah. Selain itu, harga makanan, alat tulis, dan berbagai kebutuhan sehari-hari juga ikut mengalami kenaikan. 

Ia menilai kondisi ekonomi global yang belum stabil, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah, turut memengaruhi perekonomian Indonesia. Dampaknya, mahasiswa harus lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran. Keinginan pribadi pun kerap harus ditunda karena kebutuhan pokok menjadi prioritas utama agar kebutuhan kuliah dan kehidupan sehari-hari tetap dapat terpenuhi. 

Pandangan serupa juga disampaikan oleh seorang mahasiswa psikologi UKSW. Dalam wawancara yang dilakukan pada Rabu (1/7),  mengaku kondisi keuangan selama kuliah mengalami kondisi yang naik turun. Selain harus memenuhi kebutuhan pokok seperti makan dan transportasi, ia juga perlu menyisihkan dana untuk menunjang aktivitas organisasi yang diikutinya. Menurutnya, kenaikan biaya hidup paling terasa berasal dari pengeluaran untuk bahan bakar kendaraan. Ia menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraannya sehingga harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya uang Rp20.000 masih cukup untuk mengisi bahan bakar, kini nominal tersebut dinilai tidak lagi mencukupi. 

“Kondisi ekonomi saya up and down karena selain kuliah, saya ikut berorganisasi, jadi kadang perlu menutupi dana kegiatan.  Selain itu, kan ada kebutuhan sehari-hari juga, kayak makan, bensin, dan perawatan motor, terutama karena uang jajan dan bensin itu jadi satu,”ujarnya. 

Narasumber menambahkan bahwa biaya makan di lingkungan tempat tinggalnya masih relatif stabil dan belum mengalami perubahan yang signifikan. Namun, meningkatnya pengeluaran untuk bensin tetap memberikan dampak terhadap pengelolaan keuangan sehari-hari.

Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran tersendiri. Sebagai mahasiswa yang belum memiliki penghasilan tetap, seluruh kebutuhan masih bergantung pada dukungan orang tua. Ia mengaku khawatir apabila kondisi ekonomi nasional turut memengaruhi pekerjaan dan pendapatan orang tuanya, yang pada akhirnya dapat berdampak pada uang saku yang diterimanya setiap minggu. Ia juga menilai mahasiswa perlu semakin bijak dalam mengatur pengeluaran agar kebutuhan akademik dan kebutuhan sehari-hari tetap dapat terpenuhi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. 

Secara umum, hasil wawancara menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya transportasi, tetapi juga memicu kenaikan berbagai kebutuhan sehari-hari yang memperbesar pengeluaran mahasiswa. Meski demikian, sebagian besar mahasiswa berusaha beradaptasi dengan mengatur pola konsumsi, menyusun skala prioritas, serta mengelola keuangan secara lebih bijak agar kebutuhan kuliah dan kebutuhan hidup tetap dapat terpenuhi di tengah tekanan biaya hidup yang semakin meningkat.

Penulis: Tabita Christine Setefanus, Nova Rini Puji Astuti
Editor: Cecilia Maura Wilma Liu
Ilustrasi: Hezekhielia Bening Adinusa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

AFL UKSW Hadirkan Capacity Building dan Pertukaran Budaya Bersama Mahasiswa Internasional

0 $0.00