/

AFL UKSW Hadirkan Capacity Building dan Pertukaran Budaya Bersama Mahasiswa Internasional

/
15 dilihat

Salatiga – Peserta AIESEC Future Leaders (AFL) UKSW berdiskusi langsung dengan mahasiswa internasional asal Jepang dan India dalam sesi Cross Cultural Sharing yang digelar pada Jumat (6/6). Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal budaya, pengalaman hidup, dan perspektif global melalui interaksi bersama mahasiswa yang sedang menjalani program pertukaran di Indonesia.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program AFL yang telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan sejak April 2026. Selama program berlangsung, peserta memperoleh berbagai materi pengembangan diri dan persiapan karier, seperti penyusunan curriculum vitae (CV), manajemen diri, wawancara kerja, hingga public speaking. Pada pertemuan kali ini, peserta diajak untuk memperluas wawasan melalui pembelajaran lintas budaya secara langsung.

Dalam sesi Cross Cultural Sharing, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi bersama Mao Mamiya, Hirana Mimamiyama, dan Waka Hamada dari Jepang, serta Amrin Javed Shaikh dari India. Berbagai topik dibahas dalam suasana yang interaktif, mulai dari budaya, pendidikan, kehidupan sehari-hari, hingga pengalaman beradaptasi di lingkungan yang berbeda.

Mengenal Budaya Melalui Pengalaman Langsung

Melalui sesi diskusi, para mahasiswa internasional memperkenalkan budaya dan pengalaman mereka dari sudut pandang yang lebih personal. Hirana memperkenalkan Kyoto sebagai salah satu kota yang kaya akan budaya tradisional Jepang. Ia juga menjelaskan tentang empat musim yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang.

Sementara itu, Waka Hamada membagikan pengalamannya mengajar bahasa dan budaya Jepang kepada pelajar Indonesia. Ia mengaku sempat merasa khawatir sebelum datang ke Indonesia karena belum memiliki pengalaman mengajar dan menghadapi perbedaan bahasa. Namun, pengalaman tersebut justru memberinya pemahaman baru mengenai pentingnya keberanian untuk berkomunikasi.

“Bahasa hanyalah alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, jadi tidak perlu takut melakukan kesalahan,” ujar Waka.

Selain berbagi pengalaman mengajar, Waka juga mengungkapkan ketertarikannya terhadap batik. Menurutnya, batik memiliki nilai budaya yang serupa dengan kimono di Jepang karena sama-sama menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pembahasan mengenai kehidupan masyarakat multikultural juga menjadi salah satu topik yang menarik perhatian peserta. Mao Mamiya menjelaskan bahwa ketertarikannya datang ke Indonesia berawal dari keinginannya mempelajari keberagaman agama, bahasa, dan etnis yang hidup berdampingan dalam satu negara. Menurutnya, Indonesia memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana masyarakat dengan latar belakang yang berbeda dapat hidup bersama dan saling menghargai.

Selain mahasiswa asal Jepang, peserta juga berdiskusi dengan Amrin Javed Shaikh dari India. Dalam sesi tersebut, Amrin berbagi cerita mengenai kehidupan masyarakat dan perkembangan industri di India. Ia juga menjelaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara tujuan pertukarannya karena memiliki beberapa kesamaan budaya dengan India, termasuk tradisi dan perayaan keagamaan yang masih dijaga oleh masyarakat.

Keramahan Indonesia Tinggalkan Kesan Mendalam

Tidak hanya berbagi cerita mengenai negara asal mereka, para mahasiswa internasional juga menceritakan pengalaman selama tinggal di Indonesia. Salah satu hal yang paling mereka rasakan adalah keramahan masyarakat Indonesia yang membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah.

Waka mengaku sempat merasa gugup ketika harus berbicara di depan peserta AFL. Namun, sambutan hangat yang diberikan peserta membuatnya merasa nyaman dan menikmati sesi berbagi tersebut.

“Awalnya saya sangat gugup karena ini adalah pengalaman pertama saya memperkenalkan diri dan negara saya kepada banyak orang. Namun, semua peserta mengajak saya berbicara dan membuat saya menikmati kegiatan ini,” ungkapnya.

Kesan positif serupa juga dirasakan oleh mahasiswa internasional lainnya. Mereka mengaku senang karena peserta AFL mendengarkan cerita mereka dengan antusias dan aktif berdiskusi selama kegiatan berlangsung. Interaksi tersebut menjadi pengalaman berharga yang membantu mereka lebih mengenal Indonesia dari sudut pandang masyarakat lokal.

Dalam sesi wawancara, para mahasiswa Jepang juga memperkenalkan filosofi Ichigo Ichie, yang memiliki makna bahwa setiap pertemuan merupakan momen berharga yang mungkin tidak akan terulang kembali dengan cara yang sama. Filosofi tersebut menjadi pesan yang mereka bagikan kepada peserta AFL untuk menghargai setiap kesempatan bertemu dan belajar dari orang lain.

Salah satu mahasiswa Jepang bahkan menyampaikan kesan yang paling membekas selama berada di Indonesia.

“Saya menyukai semua orang yang saya temui. Semua orang yang saya jumpai sangat ramah,” tuturnya.

Melalui sesi Cross Cultural Sharing ini, peserta AFL tidak hanya memperoleh wawasan mengenai budaya Jepang dan India, tetapi juga belajar tentang pentingnya keterbukaan dalam berkomunikasi dan menghargai perbedaan. Filosofi Ichigo Ichie yang diperkenalkan para mahasiswa internasional menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan dapat menjadi kesempatan berharga untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Penulis: Glory Anastasya Natu, Milka Ines Indrasari, Cecilia Maura Wilma Liu
Editor: Cecilia Maura Wilma Liu, Tabita Christine Setefanus
Foto: Dok. AIESEC UKSW, Mirele Ester Kiesya Lai, Glory Anastasya Natu

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Mengukur Risiko Hantavirus: Ancaman Nyata atau Sekadar Ekskalasi Kepanikan Global?

0 $0.00