/

Entrepreneurship Research University sebagai Visi Rektor UKSW 2022-2027

/
1014 dilihat

Prof. Dr. Intiyas Utami terpilih sebagai Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) periode 2022-2027. Sebagai rektor terpilih, visi bertajuk “transformasi UKSW 2022-2027” yang ia canangkan adalah menjadikan UKSW sebagai entrepreneurship research university. 

“Tajuk transformasi UKSW 2022-2027 dengan membawa harapan, UKSW menjadi entrepreneurship research university. Riset yang bisa memberi daya dampak, kita bisa berkontribusi pada pembangunan nasional maupun global,” jelas Intiyas, Sabtu (30/07), saat diwawancarai oleh Scientiarum di Ruang Probowinoto Gedung G – UKSW.

Dengan visi besar tersebut, Intiyas mengharapkan UKSW menjadi Universitas Kristen yang progresif di kawasan Asia  dalam mewujudkan tridarma yang berdaya dampak untuk transformasi pembangunan berkelanjutan.

Mengenai tridarma perguruan tinggi, Intiyas mengusulkan profil dengan karakter inovator dan entrepreneur. Mahasiswa, menurut Intiyas, diharapkan mampu menggunakan ilmu pengetahuannya untuk bisa menghasilkan sesuatu.

“Saya mengusulkan profil yang inovator dan entrepreneurship. Mahasiswa tidak hanya jago dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga bisa menggunakan ilmu pengetahuannya untuk bisa menghasilkan sesuatu, bisa produk, bisa jasa yang dipakai oleh pihak eksternal. Itu gambaran besar dari visi saya,” jelas Intiyas.

Untuk mencapai profil tersebut, Intiyas mengusulkan agar mahasiswa terlibat aktif berkolaborasi bersama dosen dalam melakukan riset.

“Saya mengusulkan mahasiswa terlibat aktif dalam riset-riset yang berkolaborasi dengan dosen. Lalu, riset-riset tersebut juga kita tawarkan pada industri maupun pemerintah supaya bisa menggunakan hasil-hasil penelitian dan pengabdian yang dihasilkan dari mahasiswa dan juga dosen,” jelas Intiyas.

Intiyas juga menambahkan, “Saat ini yang dilihat oleh indikator kinerja nasional adalah luaran. Tidak hanya output, dulu IPK dan masa studi yang cukup itu sudah bisa dilihat, namun sekarang mahasiswa sebagai bentuk dari luaran universitas, tidak hanya dilihat dari IPK saja tetapi juga pada karya-karya yang bisa dihasilkan teman-teman semasa berkuliah di sini (UKSW -red).”

Lebih lanjut, Intiyas menjelaskan bahwa profil yang ia harapkan ini selaras dengan nilai-nilai creative minority dan harapan pendiri UKSW.

“Ini selaras dengan visi pendiri kita, rektor pertama kita juga mencanangkan creative minority, Maka kalau kita menjadi insan creative minority, kita tidak hanya dituntut (untuk -red) kreatif. Bukan hanya minoritas tetapi yang berdaya cipta dan saya menambahkan yang berdaya dampak,” jelasnya.

Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E., M.Si., Ak, CA, CMA, QIA, CFrA
laksmita/scientiarum.id

Sebagai upaya mengejar standar nasional, menurut Intiyas, akan dimulai dengan perbaikan pada tata kelola universitas.

“Selain itu, ada perbaikan tata kelola untuk penyelenggaraan universitas yang ramping sehingga kita bisa berlari mengejar standar nasional bahkan internasional. Kita berharap ada peningkatan kinerja dosen, semakin banyak yang meraih jabatan fungsional tertinggi, juga meningkatkan prestasi mahasiswa di kancah nasional dan internasional,” jelas Intiyas.

Selain pemanfaatan jejaring yang dioptimalkan, Intiyas juga mengungkapkan, bahwa dirinya memimpikan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dapat dikonversi menjadi SKS pada mata kuliah yang terintegrasi.

“Banyak peluang di luar sana. Jejaring yang belum kita manfaatkan secara optimal. Yang berjejaring tidak hanya prodinya, tetapi saya memimpikan kesibukan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan bisa dikonversi menjadi SKS di mata kuliah-mata kuliah yang terintegrasi. Sehingga kalau mahasiswa banyak berkegiatan. Misalnya pelatihan kepemimpinan, kenapa tidak dikonversi juga di dalam pencapaian pembelajaran yang ada di beberapa mata kuliah? Dan itu secara regulasi DIKTI sangat memungkinkan, sangat ada ruang untuk itu,” ungkap Intiyas.

Di bidang pendidikan, Intiyas menjelaskan, bahwa akan dilakukannya percepatan dan remodelling kurikulum. Hal ini juga, berkaitan, menurut Intiyas, dengan konversi kegiatan kemahasiswaan ke dalam SKS.

“Kurikulum kita sudah baik tapi memang harus kita asah lagi supaya integrasinya lebih kuat. Jadi, nanti secara teknis secara bertahap kita akan bukan merubah tetapi secara teknis kita harus menyerap konversi kegiatan-kegiatan mahasiswa di dalam kurikulum. Sehingga tidak hanya lelah berkegiatan, tapi ada SKS sepanjang nanti cara kita menyerap kegiatan mahasiswa juga setara dengan capaian pembelajaran di mata kuliah-mata kuliah. Ada aspek KKNI, ada aspek Merdeka Belajar, dan itu sangat memungkinkan,” jelas Intiyas.

Selain itu, menurut Intiyas, kegiatan-kegiatan kampus rencananya akan diintegrasikan dengan sekolah-sekolah di bawah gereja-gereja pendukung. Setiap gereja pendukung, kata Intiyas, rata-rata memiliki sekolah, memiliki universitas, yang perlu disinergikan dengan UKSW untuk saling menopang dalam kegiatan-kegiatan riset dan kegiatan lainnya.

“Sehingga yang maju tidak hanya UKSW, tetapi juga sekolah-sekolah dibawah gereja pendukung yang lain, baik kesejahteraan serta daya dampak itulah yang diharapkan,” harap Intiyas.

Intiyas juga turut memperhatikan bidang sumber daya manusia, yang menurutnya akan dilakukan percepatan. 

“Ada program mentoring untuk penulisan hibah yang selama ini sudah berjalan tapi kita perlu perkuat kembali,” jelas Intiyas. 

Kemudian juga, menurut Intiyas, di bidang sarana dan prasarana perlu adanya green infrastructure

“Kita membentuk ekosistem hijau yang akan membuat kita teduh, nyaman, serta nantinya pembelajaran bisa dilaksanakan tidak harus di kelas, tapi bisa dilaksanakan dengan berbasis digital, teman-teman lebih (bisa -red) berinteraksi pada ruang-ruang publik yang akan membuat kita terlihat sebagai universitas yang menjadi penciri creative minority,” jelas Intiyas.

Intiyas juga memberikan tanggapan mengenai keberlanjutan finansial. Menurutnya, akan diupayakan suatu platform guna membentuk ekosistem digital yang mengintegrasikan elemen-elemen di UKSW maupun gereja-gereja pendukung.

“Ekosistem digital berbasis finansial mahasiswa, alumni, kemudian gereja-gereja pendukung. Kita akan membentuk suatu sistem untuk e-commerce, sistem pembayaran serta sistem pendanaan,” jelas dosen yang telah mengabdi selama kurang lebih 20 tahun di UKSW tersebut. 

Intiyas, memberi contoh terkait dispensasi biaya kuliah, menurutnya,  “akan ada pendanaan yang bersifat angsuran. Jika kemarin banyak mahasiswa yang misalnya, ‘waduh, saya harus dispensasi’, kita akan kembangkan supaya bukan dispensasi tapi memang ada pendanaan yang sifatnya bisa diangsur dengan mudah. Bahkan jika kemarin teman-teman bisa mengembangkan penelitian dengan baik maka daya dampak yang saya sebutkan tadi bisa menjadi fee yang bisa dipakai untuk kuliah juga.”

Intiyas, dalam kesempatan wawancara bersama Scientiarum, juga menetapkan target pencapaiannya. Visinya adalah, kata Intiyas, UKSW akan ditargetkan masuk dalam university ranking pada 5 tahun ini dengan indikator-indikator yang telah didesain. 

“Untuk target capaian sejak saya mengusulkan rencana pokok pikiran strategis sudah saya cantumkan beberapa indikator yang akan menjadi target secara operasional, tentu saja butuh penajaman dan nanti dengan Yayasan, dengan Pembina dan Pengurus (YPTKSW -red), jumlah-jumlah indikator tentu saja memperhatikan indikator kinerja utama di level nasional. Targetnya memang kita harus bisa masuk di dalam jajaran di university ranking pada 5 tahun ini, paling tidak kita harus bisa mengejar yang sifatnya luaran, (yaitu -red) publikasi,” jelas Intiyas.

Untuk mencapai visi besarnya, Intiyas mengharapkan kerjasama dari semua pihak dalam komitmen yang ia namakan “kerja satu hati”.

“Harapan saya, semoga semua pihak berkenan untuk bisa bersama-sama. Saya memberi tajuk program kerjanya adalah ‘progressive to outstanding’ atau PROUD sekaligus juga komitmen kerja satu hati,” tutup Intiyas, Rektor Terpilih UKSW periode 2022-2027. (*)

Reporter: Eka Lodia Selly, Reyvan Andrian Kristiandi
Editor: Elyan Mesakh Kowi
Desain: Laksmita Sekar

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Rektor Terpilih UKSW 2022-2027, Intiyas Utami

Next Story

Bazar UMKM dan Seni Tepikota Coffee, Ajak Masyarakat Peduli Isu Lingkungan