/

“Kulo Nuwun” Mahasiswa Baru UKSW Melalui Karnaval OMB 2022

/
496 dilihat

scientiarum.id – Setelah situasi pandemi membaik, masa Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) tahun 2022 ini kembali dilakukan secara luring. Salah satu rangkaian acara dalam kegiatan ini adalah karnaval yang dilaksanakan pada Sabtu (10/9), dengan diikuti oleh 2.580 orang partisipan. Kegiatan karnaval ini dibuka dengan seremoni memotong pita oleh Rektor UKSW, Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D. dan PJ. Walikota Salatiga yang diwakilkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata (Disbudparpora) Kota Salatiga.

Karnaval OMB merupakan sebuah tradisi dari tahun ke tahun berupa barisan iring-iringan pawai dari mahasiswa/i baru yang berjalan memutari kota Salatiga untuk “kulo nuwun” kepada warga kota karena warga kampus UKSW nantinya bukan hanya menjadi warga kampus, namun juga akan menjadi bagian dari warga kota Salatiga dan menjadi saudara se-kota.

Karnaval OMB 2022

“Dan untuk itu, mereka harus mengetuk hati kepada seluruh warga kota Salatiga agar bisa menerima mereka (mahasiswa/i -red), dan menjadi bagian dalam kota (Salatiga -red) ini, hidup sebagai warga kota,” jelas Rektor UKSW dalam kata sambutannya (10/9).

Rektor juga menyampaikan pesan kepada para mahasiswa/i baru untuk menjadi warga kota yang baik setelah meminta keterbukaan hati di hadapan warga kota Salatiga untuk diterima menjadi bagiannya.

“Mohon untuk menjadi warga kota yang baik, supaya kehidupan sehari-hari anda (mahasiswa/i baru -red) memancarkan tidak hanya warga Satya Wacana, tetapi juga warga kota yang baik,” jelas Rektor dihadapan barisan Karnaval OMB 2022 dan warga kota Salatiga yang memadati Jalan Diponegoro (depan Kampus UKSW).

Karnaval Orientasi Mahasiswa Baru UKSW tahun 2022 hadir dengan mengangkat tema “Indonesia Mini”. Mercy selaku koordinator karnaval OMB tahun ini menjelaskan, “karena semua (mahasiswa/i -red) mulai berkumpul kembali menjadi satu, maka dari itu tema yang diangkat Karnaval Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) tahun ini adalah “Indonesia Mini” yang merupakan ciri khas dari UKSW di masyarakat luas”.

Sejalan dengan tema yang diangkat, karnaval tahun ini menampilkan kostum-kostum dari berbagai belahan nusantara yang selaras dengan tema, serta organisasi etnis yang berasal dari luar kampus UKSW.

Mercy menyebutkan beberapa pengisi barisan formasi karnaval yang tampil tahun ini, “CS (Calon Sarjana -red) Marchingblek, Flag, lalu ada kostum nusantara dari berbagai teman-teman etnis diluar UKSW. Kita (Panitia Karnaval -red) juga bekerjasama dengan Drumblek-drumblek kampung di Salatiga atau Paguyuban (di -red) Salatiga”.

Salah satu yang membedakan karnaval tahun 2022 ini jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya adalah rute yang lebih pendek daripada kali terakhir karnaval ini diselenggarakan pada tahun 2019 lalu dikarenakan panitia harus mengikuti regulasi dari Pemerintah Kota Salatiga,

“Aturannya sekarang ini, kita tidak boleh melewati (jalan -red) Jenderal Sudirman karena itu merupakan pusat ekonomi warga Salatiga. Jika kita lewat kesana, berarti kita (bisa -red) menganggu ekonomi-nya warga Salatiga, Jadi, kita mengikuti saran dari Dishub maupun jajaran kepolisian dan juga pemerintah daerah Salatiga (untuk tidak melewati Jl. Jenderal Sudirman -red),” Jelas Mercy

Selain berubahnya rute perjalanan pawai tahun ini, panitia juga dihadapkan dengan beberapa kendala selama proses persiapan.

“Mungkin dianggaran (termasuk kendala -Red), yang namanya proses birokrasi pasti ada, jadi salah satu kendalanya mungkin dianggaran. Tetapi untuk proses yang lainnya, Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar. (sementara -red) di hari-H kendalanya hanya di cuaca,” Jelas Mercy

Akhir pekan ini (10/9) Kota Salatiga tiba-tiba diguyur hujan ditengah jalannya karnaval, dan berimbas pada rute pawai yang harus mengalami perubahan mendadak dari yang sebelumnya disarankan oleh Pemkot. “Semulanya kita harus memutar (Jalan -red) Yos Sudarso, (pada akhirnya diubah -red) menjadi lurus. Takut mahasiswa dan anak-anak kecil juga yang menjadi partisipan pada (mengalami -red) sakit, akhirnya kita putar (pawai -red) ke (Jalan -red) Raden Patah,” Tutur Mercy.

Mercy memiliki harapan kedepannya untuk Karnaval OMB ini, “Semakin kreatif orang-orangnya, (lalu -red) pimpinan-pimpinan kampus semakin mengerti (kondisi -red) tim di lapangan seperti apa, dan ditingkatkan lagi koordinasi antara pimpinan dengan tim lapangan. Tapi sejauh ini semua orang yang (terlibat -red) didalam karnaval (tahun ini -red) maupun pimpinan, (keduanya -red) mendukung kami. Namanya di lapangan kita tidak akan mengerti apa yang terjadi, tetapi Puji Tuhan semuanya sudah baik”.

Mercy juga mengharapkan mahasiswa dan dosen yang akan melanjutkan kegiatan Karnaval ini  lebih kreatif dari tahun ke tahun, supaya dapat meningkatkan nilai jual dari Karnaval OMB UKSW.

Reporter: Alfania E. Hariyanto, Kalfarina C. Nirwanda, Otniel B. Denizar.
Penulis: Reyvan Andrian Kristiandi.
Editor: Annisa R. H. Febriyanti.
Foto: Fuad Y. D. Tara, Irfan Handika.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Studi Humanitas (Liberal Arts), Program Studi Baru di UKSW

Next Story

Efisiensi Dana Pembangunan Untuk Fasilitas Kampus