/

Survei Litbang, Pelecehan Seksual di UKSW

/
1457 dilihat

Adapun pertanyaan “jika tidak, bagaimana cara menghadapinya?”. Terdapat beberapa cara yang dilakukan responden dalam menghadapi kasus pelecehan seksual seperti mendiamkan dan melupakan kejadian; melakukan perlawanan pada pelaku; menceritakan kejadian pada orang terdekat daripada melapor pada pihak kampus.

Litbang-Scientiarum
Ilustrasi
SA/Gavra

Suara seruan terhadap pemberhentian tindak pelecehan seksual telah lama terdengar. Namun, fakta menunjukan bahwa kasus pelecehan seksual masih sering kita temukan. Bahkan, tanpa kita sadari pelecehan seksual tersebut terjadi di sekitar kita. 

Korban berbagi cerita sedih mereka. Hanya saja cerita itu terdengar oleh telinga yang tidak ingin mendengar. Banyak korban yang berani bersuara diejek dan difitnah. Budaya rasa malu dan kerahasiaan telah menahan suara mereka. Korban merasa tidak aman berbagi cerita karena takut hidup mereka diperburuk penguasa.

Pers Mahasiswa Scientiarum sebagai mitra kritis bagi kampus menyadari fenomena ini. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk bergerak bersama menjadi media bagi para korban untuk berbagi cerita dengan tetap aman. Kami menyadari bahwa kelambanan dalam merespon kasus ini adalah tindakan secara tidak langsung membiarkan kasus pelecehan seksual terus terjadi. 

Jika kita diam, kita terlibat dalam dehumanisasi yang berkelanjutan terhadap korban.

Jika kita diam, kita mengabaikan panggilan nurani kita untuk berkomitmen memastikan semua orang diperlakukan sesuai martabatnya.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Bagi John W. Creswell (1994), Bogdan dan Taylor (1975:5), pendekatan kualitatif merupakan penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut Sugiyono (2012:1) penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti merupakan instrumen kunci. 

Untuk mendukung penelitian ini, maka subjek penelitian adalah mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Demi mendukung penelitian tersebut, tim peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan sejumlah data yang dibutuhkan. Peneliti menggunakan google form dan wawancara mendalam untuk sumber data yang sama secara serempak. 

Hasil survei pelecehan seksual di UKSW

Gambar Diagram 1.1
SA/Litbang-Scientiarum

Gambar Diagram 1.1 memuat pertanyaan untuk mengetahui tingkat persentase pengetahuan responden terkait isu yang diteliti. Sebanyak 65 persen responden berjenis kelamin perempuan dan 35 persen laki-laki ikut serta dalam mengisi kuesioner penelitian. Hasilnya, 3 persen responden perempuan menyebut tidak pernah mendengar istilah pelecehan seksual sebelumnya. 62 persen perempuan dan 35 persen laki-laki menyebut pernah mendengar istilah pelecehan seksual.

Gambar Diagram 1.2
SA/Litbang-Scientiarum

Gambar Diagram 1.2 memuat pertanyaan untuk mengetahui pengalaman responden terkait isu pelecehan seksual di kampus. Diketahui sebesar 53 persen responden tidak pernah mengalami maupun mengetahui pelecehan seksual di kampus. Sebesar 38 persen responden mengaku pernah mengalami sebagai korban maupun mengetahui sebagai saksi. Adapun 9 persen menunjukan responden tidak memberikan jawaban sama sekali terkait pertanyaan penelitian, hal ini bisa mewakili responden yang kurang pengetahuan terkait isu yang diteliti (jawaban 3 persen pada Gambar Diagram 1.1).

Adapun pertanyaan terkait “jenis kekerasan seksual apa yang pernah dialami?” yang diisi oleh 38 persen responden yang pernah mengalami atau mengetahui kasus pelecehan seksual (Gambar Diagram 1.2). Dari jawaban-jawaban tersebut, diketahui ada responden yang pernah mengalami maupun menyaksikan pelecehan seksual verbal dan nonverbal secara bersamaan atau salah satunya. Hal ini dialami oleh responden yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan.

Gambar Diagram 1.3
SA/Litbang-Scientiarum

Gambar Diagram 1.3 memuat pertanyaan “apakah pernah melapor ke pihak kampus?”. 53 persen responden menyebut tidak pernah melapor dan hanya 12 persen yang pernah melapor. Sementara itu, 35 persen responden tidak mengisi pertanyaan. Responden ini mewakili 3 persen jawaban pada Gambar Diagram 1.1 dan sebagian dari 53 persen jawaban pada Gambar Diagram 1.2.

Adapun pertanyaan “jika tidak, bagaimana cara menghadapinya?”. Mewakili 53 persen jawaban pada Gambar Diagram 1.3, terdapat beberapa cara yang dilakukan responden dalam menghadapi kasus pelecehan seksual seperti mendiamkan dan melupakan kejadian; melakukan perlawanan pada pelaku; menceritakan kejadian pada orang terdekat daripada melapor pada pihak kampus.

Kemudian pertanyaan lanjutannya “apa alasan memilih untuk melapor/tidak melapor ke pihak kampus?”

Berdasarkan Gambar Diagram 1.3, diketahui sebesar 53 persen responden tidak pernah melapor kasus pelecehan seksual pada pihak kampus karena beberapa alasan. Pertama, korban maupun saksi tidak berani dan takut (meliputi hal takut tidak dipercaya). Kedua, kurang pengetahuan terkait isu pelecehan seksual maupun lembaga terkait dalam menangani kasus tersebut. Ketiga, bisa mengatasi sendiri seperti melakukan perlawanan balik. Keempat, responden tidak memiliki cukup bukti untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

Berdasarkan Gambar Diagram 1.3, diketahui sebesar 12 persen responden pernah melapor kasus pelecehan seksual pada pihak kampus dengan harapan pelaku dapat ditindak secara tegas oleh pihak kampus, sehingga kasus pelecehan seksual tidak terjadi lagi. 

Penelitian menunjukan adanya kasus pelecehan seksual yang dialami mahasiswa. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa angka kasus tersebut cukup tinggi, dan korban tidak memiliki tempat aman untuk bercerita serta mendapatkan keadilan. Realita ini menuntut kesadaran sebagai sesama umat manusia, untuk memastikan semua orang diperlakukan sesuai martabatnya.

Penulis: Divisi Litbang-Scientiarum
Ilustrator: Gavra Justine Samuel Sihombing

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Next Story

Survei Pusdasis Scientiarum: Salatiga Kota Terboros di Jawa Tengah