/

Menengok Kembali POM 2023 dari Dua Sisi

/
498 dilihat

Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) kembali hadir di pertengahan tahun 2023. Hawa panas musim kemarau di kota Salatiga tidak memudarkan semangat para mahasiswa yang mewakili fakultasnya masing-masing untuk meraih kemenangan dan memperebutkan juara umum. POM tahun ini telah selesai dilaksanakan selama 10 hari, mulai Senin (26/6) sampai dengan Jumat (7/7) lalu.

Setidaknya terdapat 12 cabang olahraga (cabor) yang diperlombakan pada gelaran POM kali ini, diantaranya sepak bola, basket, futsal, voli, badminton, tenis meja, catur, permainan tradisional, fun run, dance, dan e-sport.

Di samping itu, berkaca pada gelaran POM tahun ini, masih terdapat beberapa hal yang perlu dibenahi pihak panitia di gelaran selanjutnya seperti rundown, persiapan panitia, surat izin, ketidakjelasan persyaratan sebagai peserta, dan kinerja wasit yang belum maksimal. 

Salah satu pemain dari kesebelasan Fakultas Teologi, Victor berpendapat bahwa persiapan panitia POM tahun ini kurang matang.

“Yang saya lihat dari 2 cabor yakni futsal dan sepak bola, ini bukan hanya pendapat saya sendiri melainkan ada banyak juga yang ngomong kalau panitia cuma gaya-gaya saja, padahal kinerjanya buruk. Kelihatan sekali kalau tidak siap, seperti tidak ada evaluasi. Selain itu, saat bertanya dengan kelompok panitia satu dengan kelompok panitia yang lainnya itu jawabannya berbeda–beda, tidak satu suara,” ungkap mahasiswa yang sudah membela Fakultas Teologi di POM sebanyak 4 kali itu.

Rundown yang diberikan oleh panitia pun menurutnya bermasalah, karena panitia secara serampangan mengubah-ubah jadwal pertandingan. 

“Kami (peserta –red) merasa seperti sudah tidak kuliah lagi, hanya fokus mengikuti POM saja. Panitia seenak hati merubah jadwal pertandingan sehingga mau tidak mau kami harus datang ( pertandingan –red). Dosen pun mempertanyakan ‘apa betul anak ini ikut POM’,” jelasnya.

Mahasiswa Teologi angkatan 2017 itu menaruh perhatiannya pada angkatan di bawahnya yang memiliki jadwal kelas. Namun, harus bertabrakan dengan jadwal pertandingan POM.

“Untuk saya sendiri tidak menjadi permasalahan karena sedang mengerjakan TA (Tugas Akhir –red). Tapi bagaimana dengan adik-adik saya yang sedang mengikuti kelas? Karena setiap kali kami akan bertanding, hanya satu kalimat yang keluar dari mulut adik-adik kami ‘kak, besok saya kelas’ dan jamnya itu bertabrakan dengan rundown kegiatan,” ungkap kiper Fakultas Teologi itu. 

Victor menyampaikan adik tingkatnya selalu merasa cemas saat sebelum pertandingan, hal ini dikarenakan jadwal yang bertabrakan dengan kelas. Masalah surat izin ini dinilai menganggu persiapan peserta sebelum bertanding. 

“Jadi selain kami mau atur jam bermain, strategi, dan berbagai macam hal, kami juga harus pusing dengan ini (surat izin –red). Karena tidak ada surat menyurat untuk dosen yang mengajar di kelas, jadi pasti dosennya taunya ‘oh ini anak tidak hadir’, padahal dia lagi menjalani tugas untuk bawa nama fakultasnya, jadi jalan satu satunya dari mulut mereka yang keluar, ‘ah sudah, masih ada tahun depan’, ‘ah sudah bolos saja’, sekarang panitia mau tanggung jawab tidak? Kalo kami punya adik-adik ini ulang (mata kuliah –red) tahun depan,” tambahnya.

Selanjutnya, Victor pun mempersoalkan persyaratan peserta untuk mengikuti POM. Di beberapa kesempatan, peserta yang sudah mengumpulkan persyaratan tetap tidak bisa bermain. Ia menilai hal-hal semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Cuma cek ‘oke mahasiswa masih aktif’, main. Tahun lalu saja ada yang terlambat mengumpulkan (persyaratan –red) pun masih tetap main. Terus ada lagi dibilangnya yang sudah lulus tidak bisa bermain, tapi yang saya lihat dan saya dengar dari teman-teman saya, itu ada yang tidak kuliah pun bermain di POM, itu sekarang kejelasannya bagaimana?,” ungkapnya.

Victor juga menyoroti apresiasi yang diberikan oleh panitia kepada mereka yang menjadi juara. Ia merasa kecewa dengan apresiasi dalam bentuk piala yang dinilainya ‘murahan’.

“Kami ini cuma menjalani tugas untuk membanggakan fakultas kami, 1 rupiah pun tidak, tapi setidaknya kalian beri apresiasi kepada kami, kalian sudah lihat kami mau ‘mati-mati mampus’ di dalam lapangan, tapi apresiasi kalian? Kami mandi hujan, piala sepanggal cuma 75 ribu, kami Teologi tahun lalu Juara 1 futsal dan pialanya bukan begini, masih lebih besar dari ini piala. Coba panitia lihat ke belakang, kami rasa seperti panitia ini tidak hargai pemain,” ungkapnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Victor berharap untuk panitia POM selanjutnya merupakan orang-orang yang sudah benar-benar siap dan juga hal hal teknis sekecil apapun perlu diperhatikan, karena hal-hal tersebut dapat merugikan pemain sehingga tujuan dari POM untuk menyatukan antara fakultas satu dengan fakultas lainnya tidak dapat tercapai.

“Saya mohon panitia itu harus siap dalam segala hal, dari hal yang kecil sampai hal yang besar. Jangan cuma dari omong-omongan yang saya terima, cuma tau gaya saja, tapi yang kami lihat itu nol besar. Semoga kedepannya POM tetap berjalan, dan saya harap masalah-masalah seperti ini dapat dievaluasikan supaya kedepannya bisa lebih baik, jadi tidak ada masalah-masalah seperti ini lagi,” harapnya.

Senada dengan pernyataan Victor, Hendra sebagai salah satu pemain Voli dari Fakultas Teknologi Informasi (FTI) berpendapat bahwa jadwal yang diberikan oleh panitia cenderung mendadak.

“Mungkin bisa di infokan lebih awal di instagram agar tau kapan ada pertandingan. Tidak mendadak langsung di taruh (sematkan –red), jadi terkesan terburu-buru banget untuk kita,” ungkapnya.

Selain rundown yang berubah-ubah, kinerja wasit pun dipertanyakan oleh peserta karena dinilai memihak pada salah satu tim. Hal ini diungkapkan oleh Felix, pemain sepak bola FTI. 

“Kadang-kadang wasit menahan-nahan waktu, jadi seperti ingin memenangkan satu tim, satu tim harus dikasih lolos. Contohnya saat kami melawan tim FISKOM (Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi –red), mereka (wasit –red) seperti menahan-nahan waktu. Mungkin wasit berencana untuk memberikan (adu tendangan –red) penalti, tapi kami akhirnya berhasil mencetak 2 gol,” jelasnya.

Felix pun mengungkapkan kekecewaannya terhadap panitia yang sedari awal tidak mempersiapkan diri sebaik mungkin. 

“(Panitia –red) sudah ambil keputusan, tapi keputusan itu tidak dipertanggung jawab, makanya beberapa pemain itu tidak main, untuk panitia tahun ini ada sedikit miskomunikasi ya,” ungkapnya

Salomo sebagai Ketua Panitia POM merespon berbagai komentar yang ditujukan kepada dirinya dan pihak panitia. Menurutnya, secara garis besar kinerja Ia dan rekan-rekannya sudah memenuhi ekspektasinya secara pribadi.

“Diluar ada kekurangan atau ada kurangnya panitia ini, tapi bagiku apa yang sudah kuharapkan dari awal, bisa tercapai lah dalam POM tahun ini. Dibilang keluputan sih, di tiap kepanitiaan, di tiap periode pasti ada, nggak mungkin aku memungkiri hal seperti itu,” jelasnya.

Kemudian terkait dengan kinerja wasit, Ia menegaskan bahwa saat Technical Meeting (TM), apapun yang terjadi di atas lapangan merupakan hasil pertimbangan dan penglihatan wasit, sehingga panitia tidak bisa ikut campur. Terkecuali terdapat masalah besar, yang dimana panitia harus turun tangan. 

“Tapi kalo setiap hal yang terjadi di lapangan, itu keputusannya ada di tangan wasit, dan satu hal yang kami tekankan bahwa wasit yang kami pakai kemarin semuanya resmi, dalam artian seperti sepak bola dari PSSI, basket dari PERBASI, kemudian catur dari PERCASI, semuanya sudah resmi. Jadi kalo mau dibilang wasitnya kurang adil atau bagaimana itu balik lagi subjektifnya masing-masing orang,” ungkapnya.

Salomo pun menyinggung perihal rundown, dimana Ia berkeinginan agar rundown sudah ada di tangan peserta pada hari minggu (25/6). Namun, karena adanya kendala maka rundown pun ditahan dan dikeluarkan per hari.

POM tahun ini diadakan selama 11 hari, berbeda dengan POM tahun lalu yang diadakan selama 13 hari. Salomo mengungkapkan bahwa panitia tidak bisa menambahkan jumlah hari pelaksanaan, hal tersebut merupakan dampak dari waktu yang bertabrakan dengan kegiatan lain seperti wisuda, hari raya Idul Adha, dan cuti bersama. Sehingga, Salomo tidak ingin mengambil langkah yang egois. 

“Tapi ya kami pikir lebih efisien 11 hari, tidak terlalu membuat padat dan kami juga berpikiran pada saat kami menentukan tanggal ini. Kami ambil tanggal ini di saat teman-teman TAS (Tes Akhir Semester –red), ada beberapa fakultas yang sudah mulai TAS ataupun belum di belakangnya. Menurut kami kalau sampai kami (laksanakan –red) di minggu terakhir kuliah itu padat dan akan menyusahkan teman-teman peserta sendiri,” jelasnya.

Salomo pun menjelaskan bahwa terkait dengan cuti, panitia menganggap hal itu tidak menjadi masalah. Sama seperti POM di tahun lalu, ketika di tengah rangkaian acara terdapat hari libur. Hanya saja dengan adanya cuti bersama ini membuat adanya perubahan terkait dengan rangkaian acara.

“H-5 atau h-6 gitu baru dapat info bahwa akan ada cuti bersama, jadi kami bukan peramal yang bisa meramalkan kebijakannya pemerintah, kami akan tetap berjalan seperti apa yang kami buat di awal. Pasti ada pro dan kontra dari teman-teman semua tapi demi kelancaran kegiatan kami, tetap harus kami lakukan,” jelasnya.

Selanjutnya mengenai surat izin peserta, Salomo mengungkapkan bahwa pihaknyalah yang semestinya membuat surat izin untuk mahasiswa/mahasiswi yang akan bertanding. Namun, jadwalnya berbenturan dengan kelas.

“Pada saat TM itu ada salah satu perwakilan yang bertanya, ini surat izin yang sediakan siapa? Kami bilang waktu itu kami (yang menyediakan). Masih ada juga notulensinya. Kalo kami sudah bilang begitu, tentunya tanggung jawabnya pasti di kami kan, kalo di luar hal-hal keterlambatan dan lain sebagainya itu jujur aja itu kadang di luar ini kami lah,” jelasnya.

Meskipun demikian, Salomo sebagai Ketua Panitia POM mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para peserta yang sudah turut ikut serta meramaikan POM kali ini. Namun, ia juga berpesan bahwasannya, menyelenggarakan kegiatan seperti POM ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, maka perlu kerja sama antar pihak panitia maupun peserta dalam rangka menyukseskan kegiatan ini. 

“Di luar banyak omongan-omongan bahwa ada kurangnya, tapi ada beberapa hal juga yang menjadi kebanggaan kami sendiri, jadi ya intinya terima kasih banyak buat semua orang yang mau meramaikan, mengikuti, dan mensupport kegiatan POM ini”

Selain itu, Salomo berharap agar panitia selanjutnya dapat memperbanyak inisiatif dari diri sendiri.

“Karena di lapangan itu kalian enggak bisa bilang bahwa ‘aku divisi ini aku divisi ini’, enggak bisa. Kalian harus meleburlah, dalam arti harus saling bantu teman-teman kalian, inisiatif yang diperbanyak sih,” harapnya.

Reporter: Sekolastika Elkha, Tio Jaya Perdana, John Edwin Junior

Penulis: Nikolas Genta Ragil Subagya

Editor: Reyvan Andrian Kristiandi

Desain/Foto: Imanuel Satya Adi Nugroho, Christian Makalew

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Kritik Alih Fungsi Asrama Kartini, Dosen Teologi Diberhentikan dari Jabatan Kaprodi

Next Story

Pendeta Rama Tulus Tidak Lagi Menjadi Dosen, Begini Proses Komunikasi GKE Dan UKSW