/

Dibalik Kemeriahan Pekan Olahraga Mahasiswa

/
553 dilihat

Suara tawa, sorakan, dan dentuman drum memenuhi UKSW beberapa hari ini, bahkan derasnya hujan tidak menyulutkan semangat mahasiswa untuk hadir menyaksikan pertandingan sepak bola yang merupakan rangkaian kegiatan dari Pekan Olahraga Mahasiswa (POM). Setelah redup selama dua tahun diterpa pandemi Covid-19, kegiatan POM kembali hadir membawa kebahagiaan bagi sebagian besar mahasiswa.

Semua fakultas di UKSW bahkan beberapa universitas di Salatiga berlomba-lomba untuk unjuk gigi pada kegiatan yang menghabiskan anggaran hingga ratusan juta tersebut. Para mahasiswa berusaha untuk membangun kembali  koordinasi antar angkatan yang sempat putus belakangan ini demi mendukung tim yang membawa nama fakultas mereka masing-masing.

Perasaan jenuh dan stres yang menerpa selama perkuliahan online pada akhirnya dapat dilampiaskan melalui POM. Perasaan- perasaan negatif yang dua tahun ini menumpuk di kepala mahasiswa dapat diredam melalui sorakan, nyanyian, dan tawa. Sudah selayaknya SMU terkhususnya panitia sebagai pelaksana dalam kegiatan ini mendapatkan pujian dan ucapan terimakasih dari para mahasiswa karena telah berhasil menyelenggarakan kegiatan ini.

Terselenggaranya kegiatan POM sendiri bermaksud untuk “menjadi wadah bagi mahasiswa UKSW untuk meningkatkan daya saing tingkat nasional serta ilmu diluar kepakarannya dalam bidang olahraga sehingga mampu bekerjasama dalam tim, dan mengelola diri secara bertanggung jawab melalui kompetisi-kompetisi olahraga”. Tentunya dengan melihat pertandingan-pertandingan yang menakjubkan itu, maka tujuan dari POM itu sendiri dapat dikatakan tercapai.

Bukan hanya bagi peserta namun juga suporter sekiranya juga merasakan hal yang sama. Para suporter tiap fakultas tidak pernah absen untuk mendukung  dengan kompak timnya masing-masing. Persiapannya pun tidak main-main. Spanduk, bendera, dan hal lainnya yang menunjukan identitas mereka, selalu tampak menemani nyanyian dan tarian para suporter itu. Dari sorak-sorak yang menggema sampai gerbang  kampus itu pula dapat dipastikan bahwa suporter-suporter hebat ini datang mendukung tim kesayangannya dengan sukarela tanpa ada paksaan. Memang begitu menakjubkannya kegiatan humanistic terbesar se universitas itu.

Namun, sangat disayangkan kekompakan dan kemeriahan itu hanya mendekam dalam ranah yang bersifat menyenangkan saja. Sorakan meriah itu tidak sampai pada ruang diskusi. Ruang yang pada dasarnya menempah mahasiswa  untuk menjadi agen perubahan maupun mitra kritis bagi kampus dan Negara.  Melihat fenomena ini wajar saja bila tidak pernah ada tanggapan maupun pergerakan yang terdengar dari mahasiswa UKSW setiap kali ada polemik di negeri ini, karena  dasar dari tanggapan dan pergerakan adalah ruang diskusi. Jika diskusi saja mati apalagi pergerakan?

Diskursus nonformal dan formal semakin kehilangan peminat, pembahasan tentang kesejahteraan masyarakat, kebijakan dan hal lainnya yang  berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi telah mengalami degradasi. Pragmatisme merupakan kacamata tunggal bagi kaum terdidik ini. Segala sesuatu yang menyenangkan dan bersifat instan menjadi acuan bagi sebagian besar mahasiswa dalam mengikuti suatu kegiatan.

Perdebatan bergengsi mengenai bagaimana negara seharusnya dikelola dan bagaimana arah masa depan bangsa kita selanjutnya, atau apa makna sesungguhnya menjadi Indonesia, hanya berkumandang pada seminar-seminar besar yang menjual nama pembicaranya untuk menarik minat peserta.Ketika seminar itu berakhir maka selesai sudah semuanya.

Sepertinya para ilmuan kontemporer tidak perlu takut akan virus sentimen nasionalisme yang berlebihan (hypernationalism) menjangkit mahasiswa di UKSW, karena jiwa nasionalis saja belum bisa tinggal di benak para mahasiswa.

Padahal mahasiswa UKSW merupakan orang-orang yang memiliki pengetahuan luas serta produktif dalam melakukan penelitian. Hal ini pula salah satu faktor yang mendongkrak UKSW menjadi salah satu universitas terbaik di Jawa Tengah. Namun, bila keilmuan tersebut hanya tinggal dalam lembar-lembar kertas putih saja. Bisa dikatakan bahwa ilmu hanya sekadar kumpulan kaidah dan abstraksi yang tidak bermanfaat.

Penulis: Bobi
Editor: Elyan Mesakh Kowi

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Janin Otoriter Lembaga Kemahasiswaan: Sebuah Ironi

Next Story

Penyanyi Tamu Bukan Penentu Bermaknanya IICF-UKSW