/

Dunia Mahasiswa: Titip Predikat Kurang Aktif pada Si Cerdas, “Tolong Jangan Jauhi!”

/
464 dilihat

Sewajarnya manusia, predikat kurang aktif pasti tak bisa dihindari. Namun pernahkah kita ingin tahu apa yang menjadi penyebab predikat itu muncul? Tetapi yang paling penting di sini, mengapa kita harus menolak dan membenci, bahkan menjauhi seseorang dengan predikat yang kurang aktif?

Fenomena di atas banyak kita jumpai dalam dunia mahasiswa, baik kita sebagai orang yang dinilai kurang aktif maupun sebagai orang yang menilai seseorang itu kurang aktif. Predikat kurang aktif adalah kondisi dimana seseorang dalam dunia mahasiswa ia kurang aktif misalnya dalam kelas, kurang aktif mengerjakan tugas kelompok, kurang aktif pada kegiatan-kegiatan kampus, dan kurang berpartisipasi dalam mencapai tujuan akan sesama mahasiswa. 

Selalu muncul dalam benak, mengapa hanya karena predikat seseorang yang katanya ‘kurang aktif’ mesti dijauhi. Bukankah kita diajarkan untuk membuat seseorang menjadi aktif sebisa mungkin dalam segala aspek sebagai mahasiswa? yang selalu membuat heran dalam dunia mahasiswa, orang-orang dengan predikat cerdas selalu menjauhi orang-orang dengan predikat kurang aktif. Padahal kecerdasan seharusnya dipakai pada ketidakaktifan. Untuk apa kecerdasan digunakan pada tempat yang sudah cerdas? Apalagi dalam dunia mahasiswa, tujuan akhir dari sebuah perkuliahan adalah pengabdian. Mengapa pengabdian tidak dimulai dari sekarang saja, sembari berproses untuk mengabdi ke ranah yang lebih luas (masyarakat).

Sebelum mengklaim seseorang, ada baiknya mengenalnya terlebih dahulu. Ibarat memahami mata kuliah, sebelum Tes Akhir Semester (TAS) tentu kita didorong untuk memahami materi-materi dari mata kuliah untuk diujikan, baru kemudian mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang dipahami. Nah, begitu juga ketika ingin mengklaim seseorang, kita harus mengenalnya terlebih dahulu, pelajari mengapa ia dinilai seperti itu, baru kemudian bisa menilainya.

Miris juga orang-orang dengan predikat kurang aktif dijauhi di dunia akademisi. Padahal dunia akademisi seharusnya sudah pandai dalam memanusiakan manusia. Kita tak akan pernah tahu bagaimana nasib seseorang dengan predikat kurang aktif di kemudian hari (setelah lulus). Sebaiknya sebagai akademisi, kita harus menerapkan intelektual yang rendah hati (humble intelectual). 

Menurutku tidak ada satupun jurusan yang mengajarkan untuk sombong apalagi menjauhi orang yang berpredikat kurang aktif (padahal kita belum mengenalnya). Mungkin sebagian orang menganggap kalau berteman atau berkenalan dengan orang berpredikat kurang aktif akan berdampak pada kecerdasannya dan dapat dinilai juga sebagai orang berpredikat kurang aktif karena berteman dengan orang berpredikat kurang aktif. Jika begitu, lantas apa gunanya kamu cerdas kalau kecerdasanmu masih bisa dipengaruhi? Berarti kamu tidak punya prinsip dan tidak punya kekuatan mengendalikan diri sendiri.

Kita perlu menurunkan ego dan lebih peka lagi terhadap fenomena ini. Ada banyak penyebab mengapa seseorang dicap kurang aktif. Mungkin saja ia belum mendapatkan wadah yang tepat untuk belajar dan menyampaikan isi pikirannya, karena wadah yang ada sekarang tidak dapat mengakomodir pemikiran-pemikirannya. Yang perlu dilakukan untuk menyikapi hal ini adalah membuka diri, menerima, serta mengajaknya (orang dengan predikat kurang aktif) berdiskusi atau bercerita. Siapa tahu dengan mengenalnya, kita bisa mengetahui penyebab kekurang aktifannya dan banyak belajar lagi darinya. Jika kita melakukan hal-hal demikian dan tidak sesuai dengan pendapat ini, sekiranya kamu sudah cerdas memilah-milih mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Dengan adanya fenomena ini, sepertinya sebagai orang cerdas, sekiranya sudah tahu bagaimana cara membuktikan sebuah asumsi maupun pandangan agar tidak gampang menerima informasi secara mentah-mentah.

Penulis: Onisimus Sandu (Mahasiswa UKSW Fakultas Psikologi Angkatan 2020)

Editor: Annisa Reiny Harnum Febriyanti

Desain/Foto: Imanuel Satya Adi Nugroho

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Oeripan Notohamidjojo dan Pendidikan Ahli Sejarah

Next Story

Aksi Baik Fans K-Pop Itu Banyak! Kami Menanam Ribuan Pohon dan Masih Terus Menanam!