/

Oeripan Notohamidjojo dan Pendidikan Ahli Sejarah

/
407 dilihat

Pemimpin pertama Universitas Kristen Satya Wacana ternyata bukan hanya ahli hukum. Sejarah mencatatnya sebagai salah satu peletak dasar pendidikan ahli sejarah.

Senin pagi, 17 Desember 1957. Seorang lelaki paruh baya bertubuh kecil, tegap, sedikit gempal, dan berkacamata menaiki podium di tengah pendopo yang lebih tinggi dibandingkan dengan bangunan lain di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sitinggil atau tanah tinggi, demikian orang biasa menyebutkan bangunan suci yang sejak 1946 difungsikan sebagai aula Universitas Gadjah Mada. Dia adalah Oeripan Notohamidjojo yang didatangkan dari Salatiga.

Oeripan bukan “orang baru.” Ia masuk dalam jajaran kaum intelektual yang dimiliki oleh Republik Indonesia setelah perang. Pemikirannya tentang hukum dan kebudayaan sangat bernas dan tajam. Ia juga Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia (PTPG Kristen Indonesia) yang baru saja genap setahun berdiri.

“Memelihara dan mengembangkan ilmu, mencari kebenaran berdaulat yang mentransendensikan manusia, bangsa, dan agama di masa peralihan,” demikian profil singkat perguruan tinggi baru itu. Tugas itu diturunkannya dalam jurusan ilmu mendidik, bahasa Inggris, ekonomi, hukum, dan tentu saja sejarah kebudayaan (Notohamidjojo, 2011). Posisi inilah yang membuatnya menjadi tamu khusus dalam seminar yang bertujuan untuk merumuskan sejarah baru, yaitu sejarah Indonesia yang tidak lagi menggunakan buku-buku dan tulisan yang berasal dari penulis penjajah Belanda dan menjadi sumber semangat bagi kehidupan bangsa Indonesia untuk selama-lamanya.

Sejarah Berwawasan Global

Oeripan adalah satu dari dua pembicara panel kelima seminar yang cukup panas dan menggemparkan sejak hari pertama. Dengan pembawaan tenang dan suara menggelegar, ia menyampaikan sebelas saran untuk pendidikan ahli sejarah Indonesia. Salah satunya adalah pendidikan ahli sejarah di Indonesia yang harus berorientasi pada pandangan dunia, konteks internasional, serta perlengkapan keterampilan teknis. Dalam konteks ini, gagasannya berada satu langkah di depan M.D. Mansoer, rekan satu panelnya yang berasal dari Inspeksi Pusat Pendidikan Guru, yang menekankan pada sejarah Indonesia yang mendukung kerja sama antara sesama bangsa Indonesia khususnya Asia Tenggara. Selain itu, ia juga menguatkan gagasan Moh. Ali dari Jakarta yang menekankan Indonesiasentris sebagai diskursus baru untuk menghapus warisan feodalisme. Oeripan menawarkan sebuah perspektif global dalam pendidikan ahli sejarah. Konteks internasional itu, menurut Oeripan, bisa dimasukkan dalam pendidikan historis untuk penyelidik, pengarang, maupun pengajar sejarah terutama dengan memasukkan topik-topik relasi internasional atau mengembangkan sebuah genre, yaitu sejarah hukum internasional.

Selain menggarisbawahi konteks global atau internasional, Oeripan juga menyarankan agar setiap universitas di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan ahli sejarah wajib untuk menyiapkan dan memimpin sejarawan yang dapat menggunakan sumber-sumber sejarah asli  serta wajib menyiapkan dan memimpin penulis-penulis yang secara sintesis mempergunakan sumber-sumber yang sudah dan belum diterbitkan. Sumber-sumber yang dimaksudkan oleh Oeripan bukan semata-mata sumber teks dalam bahasa Belanda, melainkan sumber-sumber asli Indonesia. Dalam hal ini ia mencontohkan sumber-sumber teks kerajaan, baik kerajaan di Surakarta, kerajaan Yogyakarta, maupun kerajaan-kerajaan dari luar Jawa.

Keterbukaan tentang Pendidikan Ahli Sejarah di PTPG

Sekalipun tidak sepanas panel-panel sebelumnya, diskusi tentang pendidikan ahli sejarah yang dibawakan oleh Oeripan Notohamidjojo dan M.D. Mansoer memantik perdebatan, sanggahan, juga saran. Setidaknya, ada sepuluh penyanggah yang tercatat dalam dokumen notulensi. Sanggahan-sanggahan itu menghasilkan diskusi panjang dan merumuskan banyak kesimpulan. Pertama, seorang ahli sejarah harus memiliki kepribadian dan rasa kebangsaan. Kedua, pendidikan ahli sejarah di PTPG tingkat III sebaiknya diberi bahasa Jawa kuno dan sejarah kebudayaan yang mendalam dan luas. Ketiga, didaktik dan pedagogik diajarkan secara fakultatif kepada calon-calon ahli sejarah mengingat banyak dari mereka yang terjun ke lapangan perguruan sebagai guru sejarah. Keempat, pendidikan sejarah negara-negara tetangga hendaknya harus diajarkan dengan cukup mendalam kepada calon-calon ahli sejarah.

Selain empat kesimpulan di atas, seminar juga menghasilkan kesimpulan bahwa pendidikan PTPG harus menitikberatkan pada pendidikan kejuruan daripada keguruan. Kesimmpulan tersebut  bertentangan saran M.D. Mansoer yang berpendapat bahwa PTPG atau FKIP sebaiknya menitikberatkan pada pendidikan keguruan daripada kejuruan. Menariknya, panitia seminar memberikan tambahan catatan “saran ini disetujui oleh pemasaran O. Notohamidjojo” (Panitia Seminar Sejarah, 2017).

Tidak ada catatan jelas tentang alasan Oeripan menerima saran tersebut. Namun, penerimaannya menunjukkan keterbukaannya terhadap kritik sekaligus menarik apabila dikomparasikan dengan posisinya sebagai dekan PTPG. Dalam hal ini, Oeripan agaknya mengarahkan pendidikan ahli sejarah di perguruan tinggi yang dipimpinnya tidak semata-mata menekankan pada keahlian pedagogis melainkan juga vokasi. Di sisi yang lain, Oeripan juga menyetujui bahwa pelajaran sejarah harus diperdalam dengan cara mengadakan ruangan model dari benda-benda atau duplikat sejarah benda-benda sejarah. Dalam hal ini, konsep laboratorium yang disetujui oleh Oeripan bukan semata-mata laboratorium untuk ilmu-ilmu eksakta melainkan juga untuk ilmu humaniora khususnya sejarah.

Refleksi
Kehadiran Oeripan dalam seminar sejarah 1957 adalah sebuah realitas sejarah. Setidaknya, sosok yang kini akrab dengan panggilan “Pak Noto” itu telah tercatat sebagai salah satu peletak dasar-dasar pendidikan ahli sejarah. Demikian juga, warisannya, jurusan sejarah kebudayaan yang telah bersalin nama menjadi program studi pendidikan sejarah di perguruan tinggi yang kini dikenal sebagai Universitas Kristen Satya Wacana, masih tetap bertahan.

Seminar sejarah 1957 barangkali telah berjarak lama, tepatnya 64 tahun, dari sekarang. Namun, ada banyak pemikiran Oeripan Notohamidjojo yang kiranya masih relevan untuk diperbincangkan sampai hari ini. Setidaknya untuk tiga hal. Pertama,  tentang relasi global atau konteks internasional. Jika ia sedemikian gigih dan visioner memperjuangkan gagasannya tersebut, pendidikan untuk ahli sejarah di Universitas Kristen Satya Wacana sebagai pengembangan PTPG Kristen Indonesia juga semestinya menempatkan keduanya sebagai agenda utamanya. Dalam konteks ini pula, mata kuliah sejarah (termasuk sejarah lokal) semestinya ditempatkan dalam relasi global atau konteks internasional.

Poin berikutnya adalah tentang konsep ahli sejarah dan kompetensinya. Oeripan Notohamidjojo telah dengan tegas menyampaikan bahwa ahli sejarah dari PTPG bukanlah semata-mata pengajar atau guru sejarah, melainkan juga peneliti dan penulis sejarah. Program Studi Pendidikan Sejarah, sebagai salah satu pewaris pemikiran Oeripan Notohamidjojo mengembangkannya  dengan menambah satu keahlian lagi, yaitu pengelola wisata (sejarah). Persoalannya, tiga profesi terakhir relatif tidak populer. Begitu juga dengan fokus pendidikannya, akan berorientasi pada pedagogis atau mengikuti dengan tinjauan kritis pilihan Oeripan Notohamidjojo tentang pendidikan ahli sejarah yang berorientasi pada kejuruan.

Hal terakhir adalah soal laboratorium. Sekalipun gagasan laboratorium disetujui oleh Oeripan Notohamidjojo, tidak bisa dipungkiri bahwa Laboratorium Sejarah adalah laboratorium tersempit atau terkecil di Laboratorium Terpadu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana. Alih-alih untuk memajang beragam ruangan model dari benda-benda atau duplikat sejarah benda-benda sejarah, sebagai pusat aktivitas pun sulit. Keterbatasan ruang laboratorium ini menjadi menarik apabila disandingkan dengan pemikiran Oeripan Notohamidjojo tentang universitas di masa peralihan. Di masa sekarang ini, keterbatasan itu semestinya bukan lagi halangan. Laboratorium sosial atau laboratorium berbasis teknologi, semacam augmented virtual reality, dibutuhkan. Tentu saja, itu semua hanya mungkin apabila ada kolaborasi.

Akhirnya, pemikiran-pemikiran Oeripan Notohamidjojo tentang pendidikan ahli sejarah kiranya adalah warisan berharga yang akan mengabadi. Lebih dari itu, warisan itu bukanlah warisan statis melainkan harus terus diperbincangkan dan dikritisi. Tentu saja, ini bukan pekerjaan pimpinan ataupun staf melainkan juga para mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan ahli sejarah di Universitas Kristen Satya Wacana.

Penulis: Galuh Ambar Sasi (Pendidik Ahli Sejarah UKSW)

Editor: Reyvan Andrian Kristiandi

Foto/Desain: Imanuel Satya Adi Nugroho

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Surat Cinta Untuk Maba, ‘Perkuliahan Tak Seindah yang Kamu Bayangkan Dek!’

Next Story

Dunia Mahasiswa: Titip Predikat Kurang Aktif pada Si Cerdas, “Tolong Jangan Jauhi!”