/

PBI Jadi Wadah Keakraban Maba UKSW dan Warga Salatiga

/
299 dilihat

scientiarum.id – Pagelaran Budaya Indonesia (PBI) kembali digelar Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) pada Jumat (02/09/22) sampai Sabtu (03/09/22). PBI merupakan sebentuk pengabdian masyarakat dan bagian dari serangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru tahun 2022.

“Pagelaran Budaya Indonesia merupakan bentuk pengabdian masyarakat, yang dimaksud dengan pengabdian masyarakat disini adalah memberikan hiburan dan edukasi bagi masyarakat terutama masyarakat Salatiga, serta membangun spirit kebhinekaan untuk memperkokoh kota Salatiga sebagai kota kerukunan,” ungkap Fredrik Hallatu selaku Koordinator Pagelaran Budaya Indonesia, Jumat (02/09/2022).

Dalam acara PBI tahun ini, menurut Fredrik, partisipasi masyarakat cukup antusias. Masyarakat kota Salatiga mempunyai ikatan yang asyik dengan UKSW, seperti band guru dari SMA Negeri 1 Salatiga yang ikut memeriahkan jalannya acara PBI.

“Puji Tuhan dan Alhamdulillah, masyarakat kota Salatiga juga punya ikatan yang asyik dengan UKSW. Selain itu, ini yang baru saja tampil, adalah band Guru-guru dari SMA 1 Salatiga, itu yang gokil. Jadi, tahun 2022 ini, kami sangat bersyukur antusias masyarakat itu tinggi sekali,” kata Fredrik.

Secara internal maupun eksternal, menurut Fredrik, PBI diperuntukan bagi Mahasiswa UKSW dalam membentuk rasa tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat kota Salatiga. Selain itu, ia menyampaikan bahwa UKSW pun menjadi rumah bagi masyarakat kota Salatiga. 

“Jadi artinya, lewat PBI ini mahasiswa baru sadar, oh ternyata kita harus pengabdian masyarakat ya, kita kalau hidup tentram rukun dengan warga itu asyik seperti ini ya. PBI sendiri di tahun 2022 secara khusus, kebetulan berlokasi di Lapangan Bola UKSW, jadi kampus UKSW itu juga rumah bagi warga masyarakat kota Salatiga,” jelas Fredrik.

“Rangkuman kegiatannya itu ada panggung hiburan dan panggung edukasi. Jadi mereka, tidak hanya sekadar menyanyi tapi ini lho, apa yang maba (mahasiswa baru -red) nyanyikan itu ada edukasi, ada cerita, dan ada pesan yang ingin disampaikan lewat musik itu. Makanya, ada lagu-lagu khusus yang kami (Panitia PBI -red) pilih untuk dinyanyikan meyakinkan maba dan warga kota Salatiga bahwa kita beragam,” jelas Fredrik.

Fredrik menambahkan, PBI diadakan atas arahan PR III dengan tujuan khusus, yaitu memberikan suasana nyaman bagi mahasiswa yang berasal dari Sabang sampai Merauke dan menjadikan UKSW layaknya rumah sendiri. PBI, menurut Fredrik, mempunyai perbedaan dengan Indonesian International Culture Festival (IICF) dari segi esensi dan segmentasi.

“IICF itu menjawab kerinduan setiap teman-teman mahasiswa civitas akademika UKSW tentang kampung halaman masing-masing dan segmentasi utama adalah civitas akademika UKSW. PBI segmentasi utama adalah mahasiswa baru dan masyarakat kota Salatiga itu dua hal yang sangat berbeda. Secara khusus PBI menugaskan dan memberikan tanggung jawab tersendiri untuk etnis. Kalau IICF tentang bagaimana kita saling merangkul antar etnis dan antar warga civitas akademika UKSW,” kata Fredrik.

Pagelaran PBI tahun ini, Fredrik mengungkapkan, bahwa anggaran yang digelontorkan berkisar 200 juta rupiah. Ia menjelaskan, bahwa selain biaya penyewaan, anggaran tersebut difokuskan pada pembinaan organisasi etnis.

“Kalau anggarannya sendiri, masih kisaran 200-an jutalah, tidak sampai 250. Nah sebenarnya, kami (Panitia PBI -red) lebih prepare ke teman-teman etnis. Nah selain sewa-sewa yang lain, tapi subsidi untuk pembinaan etnis itu kami fokus ke sana juga,” jelas Fredrik.

UKSW merupakan kampus besar,  dan merupakan kampus yang sangat creative minority. Sehingga, harapan terbesar Fredrik, kedepannya UKSW tetap berjiwa Satya Wacana. Menurutnya, kegiatan PBI harus dilaksanakan karena, menurutnya, kegiatan PBI merupakan wujud kongkrit dari UUD 1945 dan Pancasila. 

“Kampus ini (UKSW -red) kampus yang hebat, kampus yang creative minority. Sebab, saya yakin dan percaya kegiatan-kegiatan semacam ini adalah wujud konkret dari apa itu Undang-Undang Dasar 1945, apa itu Pancasila, dan apa itu yang menjadi cita-cita bangsa ini,  terutama apa yang menjadi cita-cita pendiri UKSW, yang saya sendiri secara pribadi maknai adalah menjawab panggilan gereja untuk menghidupi identitas Kebhinekaan Indonesia. Jadi kebhinekaan, pluralitas Indonesia itu wajib dijaga. Untuk itu, menjawab mimpi-mimpi itu, kegiatan semacam ini (PBI -red) harus terus berlanjut,” ungkap Fredrik.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh salah satu penonton. Yosia Joan Saputra salah satu mahasiswa Prodi DKV, berharap acara PBI berikutnya dapat menampilkan lebih banyak budaya-budaya di Indonesia. 

“Harapan saya, tahun-tahun berikutnya PBI dapat menampilkan banyak pertunjukan budaya-budaya di Indonesia lebih banyak lagi,” harap Yosia.(*)

Reporter: Annisa R. H. Febriyanti, Alfania Ester Hariyanto, Kalfarina Citra Nirwanda.
Editor: Otniel Budi Denizar.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Dosen UKSW Menggiatkan Pengembangan Kewirausahaan Sosial di Lereng Gunung Merbabu

Next Story

Studi Humanitas (Liberal Arts), Program Studi Baru di UKSW