/

Mengapa Studi Humanitas (Liberal Arts)?

/
584 dilihat
@uksw_salatiga/instagram

scientiarum.id – Akhir 2021 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim menyatakan hanya ada maksimal 20 % lulusan mahasiswa yang bekerja sesuai dengan program studinya. Sebelumnya, di tahun 2017 Kementerian Ketenagakerjaan menyebut angka yang lebih besar, yaitu 37 persen. Ditegaskan juga bahwa jika tidak dibenahi, maka dalam jangka panjang Indonesia berpotensi menghadapi ketidakcocokan bidang keahlian pekerja (job-education mismatch). Ini bukan kasus khusus yang dihadapi Indonesia. Berbagai referensi menginformasikan gejala yang sama dialami negara-negara lain, baik di Asia, Australia, Eropa maupun Amerika.

Survei yang diselenggarakan oleh sebuah konsorsium di Amerika Serikat tahun 2006 menemukan banyak tamatan universitas tidak cukup siap berhadapan dengan perubahan tuntutan di tempat kerja. Riset bertajuk “Are They Really Ready To Work?” itu mengidentifikasi keahlian-keahlian dasar yang sangat dibutuhkan di tempat kerja justru tidak dikuasai kebanyakan lulusan. Penelitian Tony Wagner (2008), ahli pendidikan dan peneliti senior di The Learning Policy Institute memperlihatkan hasil yang kurang lebih sama. Dalam laporan WEF yang fokus pada kajian The Future Jobs Report 2020, dimana pengaruh pandemi global Covid-19 telah diperhitungkan, diperlihatkan adanya kecenderungan resesi dan ancaman pengangguran serta kehilangan pekerjaan akibat resesi ekonomi. Seleksi ketat untuk dipertahankan dalam sebuah pekerjaan tidaklah mudah, kecuali memiliki keunggulan adaptif yang relevan dengan tantangan aktual perusahaan. Studi tersebut juga melaporkan rata-rata perusahaan memperkirakan sekitar 40% pekerja akan memerlukan pelatihan ulang selama enam bulan atau kurang dan 94% pemimpin bisnis melaporkan mereka mengharapkan karyawan untuk mengambil keterampilan baru di tempat kerja.

Tony Wagner merekomendasikan tujuh keterampilan wajib untuk berhasil dan bertahan di abad ke-21, yakni critical thinking and problem solving, collaboration across networks, agility and adaptability, initiative and entrepreneurship, accessing and analyzing information, effective communication, curiosity and imagination. Hal senada diidentifikasi WEF dalam laporan tahun 2020 seperti saya rujuk di atas, sebagai jenis-jenis keterampilan teratas yang dibutuhkan pemberi kerja sampai tahun 2025, antara lain pemikiran kritis,  kemampuan analisis dan problem solving, serta keterampilan dalam manajemen diri (seperti pembelajaran aktif, ketahanan, toleransi stres dan fleksibilitas).

Apa yang bisa disimpulkan dari data dan hasil-hasil riset di atas? Pendidikan tinggi ditantang untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki fleksibilitas perspektif dan daya adaptasi terhadap kebutuhan kekinian dan masa depan. Kebanyakan jenis pengetahuan dan bentuk keterampilan spesifik yang “dilatihkan” di pendidikan tinggi disinyalir cepat berubah sehingga menjadi kadaluwarsa sebelum digunakan. Itulah sebabnya, studi-studi kolaboratif yang diinisiasi World Economic Forum (WEF) diawal dasawarsa terakhir, serta studi lainnya merumuskan apa yang disebut dengan “keterampilan abad 21,” lebih menekankan pada jenis keterampilan dasar yang menungkinkan fleksibiltas, daya adaptasi, dan kemampuan kolaborasi. Dengan menguasai keterampilan-keterampilan dasar dimaksud para lulusan akan mudah beradaptasi dan berkreasi sesuai situasi dan tantangan konkrit masa depan. Kompetensi lain yang diharapkan adalah terkait kemampuan internasionalisasi (prasyarat keluasan wawasan, kekayaan perspektif dan etika universal) sebagai akibat hilangnya batas-batas geografis,  batas-batas negara maupun “batas-batas spesifikasi kerja dalam pengertian konvensional” dalam hal persaingan sektor kerja. Orang dengan “kompetensi fleksibel, adaptif dan global” dapat dengan mudah bergerak melintasi semua restriksi, dan mengatasi atau setidaknya lebih matang menghadapi perubahan dadakan yang tidak terprediksi sebelumnya.    

Studi-studi mutakhir merekomendasikan pendidikan Humanitas (Liberal Arts) sebagai jawaban atas tantangan dan kebutuhan di atas. Antara lain seperti sudah saya bahas di postingan sebelumnya, tulisan Dirk van Damme, OECD Directorate for Education and Skills, bahwa “Program seni dan sains liberal dapat dilihat sebagai respons yang mungkin kuat terhadap tuntutan dan tantangan global yang dihadapi banyak negara.”  Hasil-hasil studi tersebut bisa menjelaskan mengapa model pendidikan Liberal Arts kembali nge-trend secara global dalam dua dekade terakhir, lantaran diyakini sebagai “terapi” yang sesuai untuk kebutuhan abad 21. Meskipun di Indonesia belum banyak terlihat, negara-negara maju di Asia seperti Cina, Jepang, Korea, Singapura, dan India telah gencar menerapkannya. Bahkan Pericles Lewis, mantan Presiden Yale-NUS College mengatakan bahwa di India, Singapura, dan Hong Kong setiap satu dari delapan universitas yang didukung pemerintah telah menerapkan pendidikan umum (liberal). Tidak hanya Asia, di Eropa, Amerika dan Australia pun model pendidikan Liberal Arts telah kembali diadopsi setelah sebelumnya sempat mengalami kemunduran.

Mengapa sesuai? Dalam studi LA, mahasiswa belajar berbagai pengetahuan dasar dalam membangun “keterampilan hidup.” Sains dasar akan membantu memahami bagaimana logika beroperasi, kehidupan muncul dan berkembang, cara kerja hukum alam, mekanisme evolusi menginspirasi “model” dalam kinerja kelembagaan (sosial), bahkan perkembangan komunitas, pasar uang, termasuk menjelaskan jatuh bangunnya sebuah korporasi bisnis, dan sebagainya. Juga sejarah kehidupan dan bagaimana temuan-temuan besar membentuk peradaban, bagaimana energi-energi di alam tersinkronasi dan membangun kekuatan-kekuatan baru, dan sebagainya. Dengan memahami cara-cara kerja alam dan formula-formula saintifik dari berbagai jenis pengetahuan, para lulusan telah dibekali ragam perspektif dan ragam pengetahuan. Intellectual capital ini “hanya sebagai bibit” yang memampukan lulusan beradaptasi dan kelak mampu meracik sendiri “kombinasi ramuan pengetahuan/teori/perspektif” ketika berada di dunia real yang cepat berubah dan tidak mungkin dipahami dan didekati dengan “mata keilmuan/keterampilan” tunggal.

Studi Liberal Arts juga memberikan alasan lain yang sesuai kebutuhan masa depan, selain ekonomis sebagaimana kritik pada orientasi pendidikan dewasa ini. Studi yang dilakukan oleh Harvard China Fund dan Amsterdam University College tahun 2015 merumuskan tiga  argumen. Pertama; argumen epistemologis yaitu mendukung fokus pada tema lintas atau interdisipliner dan pertanyaan besar terkait dengan kehidupan, pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Kedua; argumen ekonomi dan utilitarian yang menunjuk kebutuhan akan lulusan yang dilengkapi dengan “keterampilan abad ke-21” terkait kemampuan kerja dan inovasi. Ketiga; argumen moral-sosial yang menggarisbawahi pentingnya mendidik manusia seutuhnya, tanggung jawab sosial dan kewarganegaraan demokratis. Dengan demikian, model Liberal Arts secara metodologis melampaui sekadar “persiapan ekonomis” bagi masa depan lulusan.

Inilah masa depan, dengan ciri perubahan yang cepat dalam berbagai sektor (disrupsi), determinasi teknologi, kemudahan mobilitas lintas negara dan sektor kerja, dan sebagainya.  Keterampilan-keterampilan teknis dan spesifik tidak akan punya daya lentur menghadapi “kontur balapan” masa depan seperti itu. Retrukturisasi kurikulum pendidikan tinggi sudah seharusnya mempertimbangkan atau memasukkan variabel-variabel masa depan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dan, disinilah Liberal Arts diyakini memberi jawaban memadai, terutama dalam menciptakan mentalitas pemimpin.    

@uksw_salatiga/instagram

Seperti kata Richard Ekman, direktur Divisi Program Penelitian dan Program Pendidikan di Endowment Nasional untuk Humanitas serta anggota Dewan Pengawas di Univesitas Harvard, bahwa “LIBERAL ARTS MERUPAKAN TEMPAT PELATIHAN BAGI PARA PEMIMPIN.” Dengan nada yang sama namun lebih lengkap saya ingin mengutip kembali Dirk van Damme dalam Transcending Boundaries: Educational Trajectories, Subject Domains, and Skills Demands: “Pemimpin masa depan harus mampu mengatasi banyak divisi, batasan, dan segmentasi dunia saat ini untuk memecahkan masalahnya. Menjembatani disiplin, bidang kehidupan, tuntutan keterampilan lama dan baru, perpecahan budaya dan politik, dan sebagainya merupakan inti dari pendidikan seni dan sains liberal.” Atau kata Emily Griffen, direktur Loeb Center for Career Exploration and Planning di Amherst College di Massachusetts, “Ini (liberal arts) dirancang untuk membekali anda dengan kemampuan beradaptasi yang akan sangat penting untuk menavigasi beberapa dekade kehidupan profesional di lanskap yang berkembang pesat.”

@uksw_salatiga/instagram

Jadi, bila berminat mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan, marilah pertimbangkan dan bergabunglah dalam Prodi Studi Humanitas UKSW. Sebuah notion yang mungkin terkesan sedikit lebay (berlebihan), namun struktur kurikulum prodi memang dirancang untuk memenuhi kompetensi-kompetensi dasar yang membuka peluang ke arah itu. Tidak semata-mata isi kurikulum melainkan juga pendekatan dan metode belajar-mengajarnya yang unik dan terintegrasi guna mewujudkan orientasi kurikulumnya, dengan merujuk visi pak Notohamidjojo (Rektor pertama UKSW), yaitu membentuk persekutuan antara scolar dan magistra dalam sebuah komunitas ilmiah yang akrab dan setara (magistrerum et scolarium). Tambahan lagi, dalam hubungan dan proses yang demikianlah pak Noto merumuskan salahsatu tugas keilmuan di UKSW, yaitu PEMBINAAN PEMIMPIN!   

Bisa diimajinasikan, bukan?(*)

Penulis: Samuel S. Lusi (Peneliti CCTD UKSW
Editor: Reyvan Andrian Kristiandi
Desain: Cyntia Trisetiani Baga   

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Human Capital Formation (HCP) dan UKSW

Next Story

Tanyakan “Saya Bisa Apa?” Bukan “Nilai Saya Berapa?”