/

Tanyakan “Saya Bisa Apa?” Bukan “Nilai Saya Berapa?”

/
411 dilihat

Kehidupan kampus memang menyimpan sejuta cerita. Dari cerita yang paling membanggakan sampai yang kurang mengenakan. Dinamika ini menjadi hal yang mewarnai proses akademis setiap civitasnya. Mahasiswa salah satunya. Satu pertanyaan yang pernah muncul di benak saya ketika mengikuti kelas dalam mata kuliah Manajemen Pendidikan. Apakah kompetensi seorang terpelajar (hanya -red) dapat dilihat dari berkas prestasi (transkrip nilai) saja?

Fredriko/Ilustrasi

Atau ketika melaksanakan kontrak perkuliahan bersama dosen, apakah mahasiswa hanya fokus pada rentang kategori nilai yang dosen tetapkan? Bukan fokus pada kompetensi apa yang diperoleh setelah mengambil mata kuliah. Fenomena ini sepertinya umum terjadi di berbagai universitas, salah satunya di Universitas Kristen Satya Wacana. Sangat disayangkan apabila mahasiswa hanya belajar untuk mengejar nilai, bukan mencapai kompetensi profesional sesuai disiplin ilmu yang dipelajari. Bukan tanpa alasan, hal seperti ini terjadi. Target lulus kuliah cepat, standar IPK yang ingin dicapai, dan mungkin saja tuntutan dari orang-orang terdekat. Nilai memang penting, namun esensi dalam pembelajaran juga tidak kalah penting (dan -red) yang perlu diperhatikan adalah bagaimana nilai dan kompetensi mahasiswa itu balance. Sangat baik apabila nilai di transkrip menjadi cerminan kompetensi yang sesungguhnya dimiliki mahasiswa/i tersebut.

Mindset seperti ini saya rasa perlu diubah. Belajar bukan lagi menjadi ajang untuk mencari nilai tertinggi, namun belajar adalah kegiatan atau proses yang dilakukan untuk mengetahui, memperdalam, dan memperkaya ilmu atau bisa kita berikan istilah 3 M (Ilmu). Mengetahui, artinya dari kegiatan belajar, seseorang yang awalnya tidak tahu apa-apa, menjadi tahu. Memperdalam, artinya dalam proses belajar, seseorang akan meningkatkan pemahaman dan komprehensinya dalam bidang yang ia pelajari tersebut. Memperkaya, artinya dalam belajar, seseorang yang sudah paham mengenai suatu bidang, akan menjadi lebih paham dan wawasannya akan semakin luas.

Jadi, sebagai seorang terpelajar, dalam hal ini seorang mahasiswa/i, kita sepatutnya fokus pada proses pembelajaran mata kuliah yang ditempuh, bukan hanya pada nilai mata kuliahnya saja. Percayalah, ketika kita memiliki semangat dan kemauan untuk belajar hal baru, maka nilai tersebut akan sebanding dengan semangat yang kita berikan. Tetap semangat dan yakinlah, setiap proses yang kita lewati akan membawa kita pada satu titik baru yang bermanfaat untuk kehidupan kita sendiri.

Penulis : Fredriko Alberto Noya (Mahasiswa Progdi Pendidikan Fisika 2020, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana)

Editor : Reyvan Andrian Kristiandi

Ilustrasi : Fredriko Alberto Noya


Catatan:
1. https://www.kompasiana.com/yyaneta/54fff929a33311286d50f93b/kuliah-itu-untuk-cari-ilmu-apa-nilai
2. Darminto, B. P. (2022, January). ANALISIS KOMPETENSI PROFESIONAL MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA DALAM MEMAHAMI MATERI MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH. In ProSANDIKA UNIKAL (Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika Universitas Pekalongan) (Vol. 3, No. 1, pp. 415-422).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Mengapa Studi Humanitas (Liberal Arts)?

Next Story

Taman Cerdas Salatiga, “Cerdasnya di mana?”