/

Desas-desus ‘Digusurnya’ Asrama Kartini

/
1060 dilihat

“Sehingga kalau toh mau dialihfungsikan jangan semuanya, dan dalam rangka UKSW mempertahankan asrama sebagai salah (satu –red) wajah atau ekspresi filosofi berdirinya UKSW dan sebagai salah satu pilar kesejatian UKSW.”

Pdt. Dr. Tony Tampake selaku Koordinator Asrama dan Rumah Dinas

Asrama Kartini 11 A atau biasa disingkat “Askarseba” merupakan asrama mahasiswa UKSW yang didirikan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) pada tahun 1956. Di awal berdirinya, Askarseba menjadi pilihan utama bagi mahasiswa yang datang dari latar belakang suku dan daerah yang berbeda.

Tujuan Askarseba bukan hanya tempat tinggal semata. Lebih dari itu, Askarseba didirikan untuk membangun lingkungan yang mendukung pembinaan dan pengembangan mahasiswa UKSW, sehingga Askarseba secara alami menjadi suatu forum yang kental akan nilai persaudaraan.

Pada hari Rabu (18/1) lalu, diadakan suatu pertemuan antara Kepala dan Penghuni Asrama Kartini. Tujuan diadakannya pertemuan tersebut, guna memberi suatu informasi kepada penghuni asrama bahwa akan diadakan proyek pengalihfungsian salah satu gedung asrama (biasa disebut sebagai Unit) yang rencananya akan digantikan menjadi gedung Program Studi Kedokteran.

“Mendadak sekali, langsung kaya mendadak diadakan pertemuan kaya rapat dengan kepala asrama. Tanggal 18, pokoknya hari Rabu,” ungkap salah seorang mahasiswa penghuni Askarseba yang tidak ingin disebutkan namanya.

Dari keterangan penghuni tersebut menyatakan bahwa informasi yang didapatkan dari kepala asrama belum menjawab sepenuhnya isu-isu terkait pengalihfungsian asrama.

“Hanya informasi sebatas isu tapi dari mulut kepala asrama dari mulut petugas asrama sini gak sampe kaya to the point gitu kak, hanya isu isu, kita dengar isu isu. Satu orang sampaikan (ke –red) satu orang,” tambahnya.

Mereka juga berfikir apabila asrama dialihfungsikan akan berpengaruh pada nasib mereka sebagai penghuni.

“Misalnya kalau ini digusur, kami akan pindah (ke –red) kos. Tapi sebenarnya ga adil sih menurut kami, karena kami kan udah mendengar cerita sejarah asrama. Kami kan udah nyaman gitu kak, perekonomian juga salah satu (alasannya –red). Kami kan beasiswa gitu, terus juga disini kan wifi-nya memadai, terjangkau. Misalnya kalau pindah ke kos gitu mungkin agak lelet, lebih mahal,” tutupnya. 

Pdt. Dr. Tony Tampake melalui pernyataannya menjawab bahwa tidak ada yang namanya “penggusuran asrama”, bahkan diksi “pengalihfungsian asrama” juga bukan kata yang tepat, karena sebenarnya yang dialih fungsikan hanya salah satu unit Asrama saja.

“Yang pertama soal diksi pengalihan asrama ya, jadi istilah itu perlu diterangkan dulu, karena skenario yang diberikan kepada saya sebagai kepala asrama yang dialihkan itu bukan semua asrama, jadi yang dialihkan itu unit 4. Lalu tidak ada anak asrama (atau –red) penghuni asrama yang dikeluarkan, yang ada ialah pemindahan. Jadi, penghuni unit 4 dipindahkan ke unit 2, karena memang yang di unit 4 itu jumlahnya hanya sekitar 20-an yang menempati lantai 2 yang lantai 1 kosong,” jelasnya saat diwawancarai Scientiarum pada hari Sabtu (11/2).

Tony selaku Kepala Asrama diarahkan untuk mengatur teknis pengosongan unit 4 dan pemindahan penghuninya. Dalam prosesnya, Tony juga sudah mengadakan sosialisasi kepada mahasiswa penghuni asrama guna memberikan pemahaman terkait rencana dan skenario yang diarahkan pimpinan universitas.

“Kita mulai dari sosialisasi setelah mengetahui skenario itu lalu saya kumpulkan semuanya saya memberikan the whole picture of this scenario, saya beritahukan kepada mereka rencana pemindahan, jadi bukan dikeluarkan dari asrama,” jelasnya.

Sejak FKIK didirikan, pengalihan fungsi setiap unit Askarseba sudah menjadi bahan diskusi hangat para pimpinan kampus. Meski demikian, dirinya tetap beranggapan bahwa Askarseba merupakan artefak dasar filsafat berdirinya UKSW, sehingga ia menyayangkan apabila ada kemungkinan seluruh unit asrama dialihfungsikan menjadi infrastruktur program studi yang baru.

“Nah oleh karena itu, tanggapan saya apabila seluruh unit ini mau dialihfungsikan menjadi infrastruktur program studi yang baru, saya kira langkah tersebut akan terlalu beresiko, karena akan mengusik sejarah. Tetapi kalau untuk kepentingan UKSW ke depan salah satu unit dialihfungsikan, untuk saya itu masih bisa dipahami lah yang penting jangan semuanya,” jelas Tony lebih lanjut.

Alih fungsi unit 4 dilakukan guna mendukung upaya UKSW untuk bersaing dalam kompetisi antar perguruan tinggi dengan anggapan bahwa berdirinya prodi Ilmu Kedokteran merupakan langkah strategis yang harus diambil. 

“Yang saya dengar itu adalah prodi ilmu kedokteran. Unit 4 sudah dikosongkan. Bukan dibangun fakultas kedokteran, ini bukan ranah saya tapi ini informasi yang diberikan pimpinan UKSW ini kan mau melebarkan sayap di tengah-tengah atmosfer kompetisi antar perguruan tinggi dan salah satu sayap yang dianggap strategis adalah berdirinya prodi kedokteran, dan peluangnya itu ada sekarang, kesempatan itu ada, kalau tidak dimanfaatkan kan sayang.” jelasnya.

Tony juga menganggap tidak ada yang bertolak belakang dengan rencana pengalihfungsian asrama, karena telah dilakukan langkah preventif sebelumnya.

“Sejauh ini tidak ada yang kontra khususnya untuk penghuni karena kita membangun dialog, jadi di satu pihak saya terangkan kesejatian asrama ini seperti yang saya terangkan tadi, jadi mereka tahu bahwa asrama ini bukan sekedar tempat tinggal. Saya jelaskan kembali kepada mereka tentang hakikat asrama ini apa sebetulnya. Lalu, di lain pihak saya jelaskan rencana pimpinan untuk mendirikan prodi itu, nah diantara dua aspek ini ada ruang negosiasi kesejatian asrama penting, tetapi pengembangan uksw kedepan dengan keterbatasan sumber daya finansial juga penting, karena kalau mau beli tanah di sekitar sini kan mungkin tidak ada kalau (pihak kampus –red) mau beli,” ungkapnya. 

Ia pun tidak mempermasalahkan rencana alih fungsi yang dilakukan maupun rencana pembangunan yang dilakukan UKSW kedepan, selama UKSW tetap memiliki asrama.

“Apapun rencana UKSW kedepan seyogyanya, sebaiknya, dan seharusnya UKSW tetap mempunyai Asrama, seberapapun dia (UKSW –red) bisa menampung, tetap harus memiliki asrama. Kalau memungkinkan dibangun di sini ya syukurlah, kalau ada asrama yang (mau di –red) bangun lebih baik dari ini, saya kira tidak masalah kan. Karena sebetulnya secara fisik bangunan ini perlu renovasi sebetulnya, (bangunannya –red) sudah tua,” jelas Tony.

Tony juga berpendapat bahwa UKSW tetap harus memiliki asrama demi mempertahankan salah satu wajah atau ekspresi filosofi berdirinya UKSW dan sebagai salah satu pilar kesejatian UKSW.

“Nah kalau yang (asrama –red) ini, para alumni (Askarseba –red) menyimpan memori disini dan memori itu kan kenangan yang berharga buat mereka. Sehingga kalau toh mau dialihfungsikan jangan semuanya, dan dalam rangka UKSW mempertahankan asrama sebagai salah (satu –red) wajah atau ekspresi filosofi berdirinya UKSW dan sebagai salah satu pilar kesejatian UKSW. Mungkin bisa dicari tempat lain, tapi jangan sampai UKSW tidak mempunyai asrama. Apalagi di tengah kecenderungan suka mahasiswa belajar sendiri jadi mahasiswa kehilangan komunitas, karena cara belajar kita menjadi sangat individualistik nah kalau di asrama kan aspek komunalitasnya tetap terpelihara,” tutup Tony.

*Catatan: Scientiarum sudah coba menghubungi Rektor untuk wawancara mengenai isu tersebut. Namun, sampai liputan ini dipublikasikan, Rektor belum bisa ditemui.

Reporter: Willma Putri Andina, Nikolas Genta Ragil Subagya

Penulis: Reyvan Andrian Kristiandi

Editor: Cyntia Trisetiani Baga

Foto: Imanuel Satya Adi Nugroho

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Dana dari Pemerintah Macet, Agustinus: Kami Tidak Berjuang Sendiri

Next Story

Cerita Wisuda, Perjuangan dan Harapan yang Beriringan