/

Cerita Wisuda, Perjuangan dan Harapan yang Beriringan

/
1301 dilihat

Pagi hari di tanggal 25 Februari 2023, terlihat ada yang berbeda di Kota Salatiga. Banyak orang kian kemari menggunakan jubah berwarna hitam dengan corak oranye di pergelangan tangannya. Ada yang mengendarai motor bersama temannya, ada yang berkendara menggunakan mobil bersama sanak saudara, ada juga yang hanya berkendara sendiri. 

Mereka merupakan wisudawan Universitas Kristen Satya Wacana periode ke-3 tahun 2022/2023. Semakin mendekat ke kampus, semakin banyak yang menggunakan jubah itu, dilengkapi juga dengan stola berwarna-warni penanda fakultas masing-masing.

Pukul 07.50 wisudawan mulai memadati kampus. Suasana sangat ramai, lapangan sepak bola mendadak menjadi tempat parkir mobil, di depan dan di pinggir ruang kelas mereka mulai berswafoto sebelum akhirnya dipersilahkan memasuki Balairung (BU) untuk mengikuti prosesi wisuda. 

Singkat cerita, kami memperoleh izin dari pihak panitia untuk masuk ke dalam BU, walaupun yang boleh masuk hanya dua orang saja, yaitu satu orang jurnalis tulis dengan satu orang fotografer. Saat kami melihat berlangsungnya prosesi wisuda, terpancar raut bahagia nan haru dari para wisudawan dan orang tua mereka, juga terlihat banyak orang tua yang tak sabar anaknya dipanggil naik podium untuk serah terima ijazah bersama Dekan dan pemindahan tali toga dari kiri ke kanan oleh Rektor dengan diiringi alunan musik gamelan dari KBM Karawitan.

Di tengah-tengah berlangsungnya prosesi wisuda, Ketua BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) Raja Abednego Sihaloho beserta Ketua SMU (Senat Mahasiswa Universitas) Meldiana Miryam Wawoh naik ke atas podium. Ternyata, berdirinya mereka di sana untuk mewakili Maria Magdalena, S.Pd. Mahasiswi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), sahabat, teman, saudara kita yang telah berpulang, 

Di waktu yang bersamaan, ada seorang bapak-bapak asal Sragen. Sebelum berbincang dengan kami, beliau hanya asik dengan telepon genggamnya.

“Anaknya dari jurusan apa pak?,” tanya Agita, memulai percakapan.

“Komunikasi, FISKOM,” jawab Pak Warno.

“Oh.. FISKOM (Fakultas –red),” timpas Agita.

“Kira-kira pak, pesan untuk anaknya yang wisuda apa pak?,” lanjut Agita.

“Yaa.. semoga menjadi anak yang berguna aja,” jawab Pak Warno yang dilanjutkan dengan tawa renyah khas bapak-bapak. 

“Menjadi anak yang berguna, harapannya ke depan,” belum sempat menyelesaikan pertanyaan, Pak Warno langsung menjawab.

“Harapan e bisa membahagiakan orang tua, bisa mandiri,” lanjutnya.

“He’em,” jawab Agita sambil mengangguk-angguk sepakat.

“Gitu aja, hahahaha,” diikuti oleh tawa Pak Warno.

“Seperti itu ya pak,” jelas Agita. 

“Baik, terima kasih yaa pak,” tutup Agita menandai berakhirnya percakapan.

Setelah semuanya selesai dengan tugasnya, kami bertemu di samping kanan BU. Lalu, kami memutuskan untuk beristirahat dahulu. Kami duduk-duduk di area belakang BU sambil melihat para wisudawan berfoto bersama orang terkasih mereka. 

“Aku kalo wisuda pengen deh di foto sekeluarga gitu, nanti keluarga ku semua pada datang ke sini,” tercetus kalimat itu dari mulut Agita, sembari melihat ke area photo booth dan seketika itu pula serentak kami langsung melihat ke arah yang dimaksud.

“Kalo aku sih, pengennya keluarga inti aja yang dateng,” timpal Imanuel.

“Mau nya se-gang kalo bisa,” balas Agita lagi. Ekspresinya serius saat itu, tapi kami justru malah tertawa dibuatnya.

Di tengah perbincangan itu, kami merasa seperti diberi emas segunung, ketika kami melihat Kak Jane Cherstella Marutotamtama yang merupakan salah satu mahasiswa yang menyandang status Wisudawan terbaik pada hari itu, ia lulus dengan IPK 3,97. Bergegaslah saya untuk mendatanginya.

“Halo kak Jane.” Saya langsung menghampiri dan ingin berjabat tangan.

“Halo,” jawab Kak Jane dengan ramah menerima jabatan tangan saya.

“Selamat ya kak atas wisudanya,” ucap ku memberi selamat kepada Kak Jane.

“Iya, makasih,” jawab Kak Jane, masih sama ramahnya.

“Oiya kak, kami mau wawancara sebentar boleh?” izin saya.

“Boleh boleh,” jawab Kak Jane tanpa pikir panjang.

“Sebelumnya, kakaknya dari fakultas mana?” tanya Agita untuk memulai pembicaraan.

“Saya dari elektro,” jawab Kak Jane.

Suka duka selama kuliah menjadi pertanyaan pertama yang Agita lontarkan.

“Suka nya pasti kita ngerasain rasanya berteman, bersosialisasi di mana UKSW terkenal dengan Indonesia mini-nya. Di sini jadi aku bisa tahu tentang perbedaan suku dan budaya, bisa punya temen-temen yang aku ga nyangka punya di daerah itu gitu,” jelas Kak Jane.

“Kalo dukanya pasti dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada, lembur selain itu kita pun ada organisasi, rapat sampe pagi gitu-gitu aja sih, tapi walaupun itu kesannya mencapekan tapi itu akan jadi kenangan,” lanjutnya.

Mustahil jika selama perkuliahan berlangsung tidak mengalami kejadian-kejadian lucu, maka hal itu pun menjadi pertanyaan yang wajib kami tanyakan.

“Mungkin ada ya,” jawab Kak Jane.

“Kita pernah rapat, saya kan salah satu anggota BPMF (Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas –red). LKF (Lembaga Kemahasiswaan Fakultas –red) nya tuh rapat karena mendekati raev (Rapat Evaluasi –red), itu rapat nya sampai jam 3 pagi. Itu kita ramean itu se-LK kekunci dalam kampus, itu berkesan sih menurut saya,” lanjut Kak Jane sambil tersenyum mengingat kejadian kala itu yang membuat kami pun ikut tersenyum.

“Oiya baik, terimakasih ya kak,” jawab Agita sambil berterima kasih.

“Iya, terimakasih juga,” balas Kak Jane

Setelah mewawancarai Kak Jane, kami berinisiatif mewawancarai orang tua wisudawan lainnya. Kami mendapati Pak Marten Lasa, salah satu orang tua wisudawan yang berasal dari NTT (Nusa Tenggara Timur). Pertanyaan mengenai harapan Pak Marten Lasa untuk anaknya yang wisuda kami ajukan.

“Jadi anak saya kebetulan kuliah di ambil psikolog. Berdoa buka jalan, semoga dapat pekerjaan yang bisa membahagiakan orang lain,” harap Pak Marten.

Wawancara dengan Pak Marten menjadi wawancara terakhir kami. Semua telah selesai, waktunya kembali ke kantor. Di saat perjalanan kembali, kami melihat  wisudawan yang sedang berfoto menggunakan semacam atribut berupa spanduk pecel lele yang desainnya diubah dengan editan foto mereka.

Foto/Scientiarum

“Nanti kalo kita lulus, kita bikin kayak gitu,” salah satu dari kami bergurau. 

“iyaa iya iyaa,” semua setuju.

Sesampainya kami di ‘markas’, rasa lega dibarengi senang karena telah usai liputan tak bisa ditutupi oleh kita, ditambah dengan melihat hal-hal unik yang terjadi di depan mata, lengkap lah rasa bahagia. 

Penulis: Annisa Reiny H.F

Reporter: Agita Parintak, Nikolas Genta Ragil Subagya, Reyvan Andrian Kristiandi

Editor: Cyntia Trisetiani Baga

Foto & Design: Imanuel Satya Adi Nugroho

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Desas-desus ‘Digusurnya’ Asrama Kartini

Next Story

Berkenalan dengan San.gita, Grup Musik Anyar dari Salatiga