/

GMKI Salatiga Gelar Pengabdian Masyarakat di Pohon Pengantin

/
454 dilihat

Pengabdian Masyarakat merupakan salah satu program tetap hasil kolaborasi antar Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Salatiga, yang kemudian termasuk dalam rangkaian kegiatan Masa Perkenalan dan Penerimaan (MAPPER) anggota.

Kegiatan MAPPER GMKI Salatiga tahun ini berlangsung pada 26 – 29 Oktober lalu di Yayasan Bina Darma (YBD). Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi, kemudian peserta dalam hal ini mahasiswa/i Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) angkatan 2021 – 2023 dijadwalkan untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat pada Minggu (29/10), dengan agenda ‘bersih kali’ di sekitar area wisata Pohon Pengantin, Kelurahan Pulutan, Kecamatan Sidorejo, Salatiga.

(Sumber: Dok. Scientiarum/Julius Henry)

David Laike selaku Sekretaris Fungsional (Sekfung) Masyarakat menjelaskan bahwa proses kegiatan pengabdian masyarakat oleh GMKI Cabang Salatiga, dimulai dengan observasi area sekitar pohon pengantin, kemudian permohonan izin dari Rukun Tetangga (RT) setempat.

“Jadi proses persiapannya sebelum kita melakukan kegiatan ini, prosesnya yang pertama itu kita melaksanakan survei disini. Setelah itu kita melaksanakan survei, kita minta izin di RT setempat sini untuk kita lakukan kegiatan ini,” tutur David.

Dalam proses menjalankan programnya, masyarakat sekitar tampak menerima dan menyambut baik kegiatan ini. Sebagai kelanjutannya, kegiatan pengabdian masyarakat oleh GMKI ini berencana melibatkan lebih banyak partisipan, baik itu masyarakat, berbagai organisasi etnis di Salatiga, serta organisasi kelompok Cipayung Plus untuk turut mengambil bagian.

(Sumber: Dok. Scientiarum/Julius Henry)

Cipayung Plus adalah gabungan tujuh organisasi kemahasiswaan yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

“Rencananya nanti berikut, kita bersama-sama dengan masyarakat, maupun ada organisasi – organisasi etnis yang berada di kota Salatiga sini, dan juga ada organisasi kelompok Cipayung Plus, itu adalah rencana kami agar mereka ikut terlibat juga bersama-sama,” ungkap David.

Menurut David, dalam konteks yang lebih luas adanya kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mencapai kebersihan lingkungan sebagai salah satu permasalahan yang ada di Indonesia, termasuk di Kota Salatiga.

“Jadi yang ingin kita capai di sini (kegiatan ini –red), yaitu salah satunya kebersihan lingkungan. Nah, jadi kita mengambil langkah sederhananya. Untuk kita melaksanakan kegiatan, kemudian kita bersama-sama dengan masyarakat, kita diskusikan bersama dengan kelompok organisasi-organisasi, lalu kita akan mengambil langkah yang besar lagi, yaitu sebagai kebijakan publik mengenai sampah yang ada di kota Salatiga ini,” jelas David.

Di lain sisi, Meliana Gadja Lay selaku Sekretaris Fungsional (Sekfung) Organisasi mengatakan kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari profil kader GMKI atau biasa di sebut dengan Tri Panji “Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, Tinggi Pengabdian”.

“Ada namanya pengabdian, tinggi pengabdian itu juga merupakan ciri khas dari GMKI. Mengapa demikian? Karena ketika kita sudah membahas mengenai sampah, membahas mengenai isu-isu lingkungan, kita harus mempunyai tindakan nyata begitu. Kita harus menyanggupkan apa yang menjadi keresahan kita sebagai mahasiswa, sebagai masyarakat, dan sebagai orang-orang yang ada di Indonesia.”

Meliana menambahkan bahwa selanjutnya GMKI Cabang Salatiga akan kembali merencanakan program pengabdian masyarakat di Patung Ganesha, Salatiga.

“Selanjutnya nanti ini ada program lebih lanjut begitu di Patung Ganesha, Itu juga menjadi tempat sasarannya kami untuk kami bersihkan di situ, karena kami lihat itu (area –red) sangat-sangat kotor,” jelas Meliana

Meliana berharap kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat mewujudkan profil kader GMKI, tinggi iman, tinggi ilmu, tinggi pengabdian, terkhususnya dalam hal tinggi pengabdian, dan rasa kepedulian terhadap sekitar.

“Harapannya ketika kita menjadikan Tri Panji itu sebagai benteng untuk diri kita, lalu kita turun ke masyarakat, kita sudah punya itu (tri panji –red) begitu, kita sudah belajar tinggi iman, tinggi ilmu, tinggi pengabdian, jadi ketika kita sudah turun ke masyarakat, kita punya rasa peduli terhadap sesama, lingkungan, dan manusia,” tutupnya.

Reporter: Alexander Pedro
Penulis: Friana Tuapetel
Editor: Reyvan Andrian Kristiandi
Desain/Foto: Imanuel Satya Adi Nugroho/Julius Henry Krisnaputra

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Aliansi Mahasiswa Peduli Keadilan Kirim Surat Terbuka Untuk Rektor UKSW

Next Story

Lika-liku Alur Birokrasi Lembaga Kemahasiswaan Periode 2022/2023